Selasa, 09 Juli 2013

Metamorfosis nama


Tidak ada sebuah nama tanpa arti, mungkin itulah yang dipikirkan masak-masak oleh kedua orangtua kita sebelum kita lahir, memberikan nama untuk si calon buah hati dengan harapan nantinya, anak tersebut akan memiliki arti sesuai dengan nama yang akan melekat hingga ujung usianya.

Mungkin orang tua akan mencari-cari nama untuk anaknya sampai yang diinginkannya terpuaskan.

“Nah mungkin ini nama yang cocok untuk anak kita,pas dengan artinya ‘Hati nurani’ wijdan. “
Terlahir di tahun 1986 anak perempuan tersebut diberi nama wijdan ‘hati nurani’ yang entah kenapa terdengar seperti nama untuk anak laki-laki, kini tercokok sangat kuat pada seorang anak perempuan dengan nama wijdan. Sungguh aku berterima kasih kepada orang tua yang telah memberiku nama dengan arti yang sangat indah ini, ‘hati nurani’ dengan arti tersebut aku seakan menjadi sosok yang sangat ‘perasa’ dengan hati yang tidak bisa dikecewakan. Namun pada kenyataan sepanjang perjalanan hidup wijdan memberiku makna yang sangat indah.

Beralih ke nama, pada usia yang menjelang 27 tahun ini, tidak hanya nama wijdan saja orang-orang mengenalku. Berbagai pelencengan nama wijdan pun terjadi.

Diawali dengan nama kecilku ‘jade’ (baca : jid) keluargaku dari Jakarta dan Situbondo memanggil “kakak jade, adik jade” tanpa tahu artinya, hingga kini ‘jade’ tidak pernah lepas dari gaungan keluarga yang memanggilku.

“Dol” dodol? Artinya bodoh, entahlah hanya kakak dan adikku saja yang memanggil dengan sebutan ini. Berawal dari ulah kebodohanku dalam bercanda dengan saudara kandungku ini, panggilan ‘dodol’ menjadi sangat akrab di telingaku.
Wijdan, mungkin orang-orang yang memanggil namaku agak sulit dengan karakter lidah  orang-orang yang beragam, sehingga nama wijdan bisa berubah menjadi ‘wisdan, wizdan, widan’ Ah kalau sudah begitu wijdan akan menjadi sebuah arti yang salah.
Simplenya orang pasti akan memanggil namaku pada konsonan terakhirnya “dan” pasti dengan seketika akan menyaut “Ya, saya?”

SD, teman-teman SD sering membuli namaku hingga menjadi ‘wajan’ ‘zidan’ ‘bidan’ ‘edan’

SMP, metamorphosis wijdan to be ‘idhan’ Ada seorang teman suddenly memberiku nama panggilan idhan. Mungkin kedengarannya bagus, mengingat untuk menyebut wijdan sangat susah, dan juga belum ada nama panggilan untuk si wijdan. Kadang suka bingung kalau di tanya, “nama panjangnya siapa?” | gak ada, wijdan aja kok | nama panggilannya? | wijdan juga  #eaaa
Dan saatnya aku memiliki nama panggilan yaitu idhan.

Senior High School, wijdan seolah berevolusi lagi, ada yang manggil ‘wijdun, wije, weje’

Kuliah, aku baru PD memploklamirkan nama ‘idhan’ untuk panggilan yang akan menemaniku nanti. Jadi ceritanya, saat ada yang berkenalan denganku aku dengan lantang akan menyebut “idhan”
Dan sebutan "Mbah" , entah dari mana asal si panggilan tersebut bisa melekat sampai sekarang. Mungkin diantara mereka, usiaku di atas mereka.  

Saat booming situs jejaring sosial, saat sign up mengisi form, aku isi nama depan idhan, dan bingung dengan nama belakangku akan di isi apa? Oke kali ini aku sangat bingung dengan gelar nama belakangku. Sempat beberapa nama belakang menjadi pelekatan setelah nama idhan, ‘hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah’. Adanya nama belakang ini, beberapa teman selalu kepo “hoelwun, bahri, kirei, papan, hulwah?? Maksudnya apa? Artinya apa?“

Simple saja menjawabnya,

hoelwun di ambil dari bahasa arab yang artinya manis, Bahri adalah nama belakang ayah, kirei diambil dari bahasa jepang yang artinya cantik, papan?
Dan ini yang menjadi pemikir untuk nama belakang yang akan digunakan di beberapa jejaring sosial, istilah katanya, nama entertainer. Kalau dianalogikan aku ya seperti papan dengan fisik tubuh yang kurus. Papan tercetus dari obrolan seorang teman yang mengibaratkan orang kurus itu seperti papan. 
Dan aku pun mulai merasa papan itu sepertinya akan pantas dengan gandengan nama untuk idhan, jadi idhan papan nama depan dan nama belakang sama-sama berakhiran ‘an’. Nama papan sempat menjadi fenomena. Karena nama adalah sebuah doa, aku ingin gemuk dan tidak ingin selalu kurus. Aku mengganti papan dengan hulwah, artinya masih sama dengan hoelwun yang diambil dari bahasa arab artinya manis.


Shakespare pernah berkata “Apalah arti sebuah nama” Namun buatku, metamorfosis sebuah nama yang memilki arti penting dalam hidup, merupakan sebagian dari perjalanan hidup. Bisa merasa lucu, aneh, puas, hanya dengan sebutan dari nama. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar