Review Dilan: AADC rasa ZAMAN now






Akhirnya.. Dilan 1990 tayang juga di bioskop tepatnya mulai tanggal 25 Januari 2018. Dari awal, saya cukup menduga kebanyakan penonton yang datang adalah kalangan millenials, karena emang segmentasinya remaja kan. Terlebih lagi yang menjadi tokoh utamanya Iqbal sebagai Dilan. Tahu sendiri, Iqbal ini semenjak nongol di dunia entertain punya fansnya sendiri yang bocah-bocah alus a.k.a ABG dan itu terbilang banyak. Terlepas dari siapa yang menjadi tokoh utamanya, novel yang ditulis sendiri oleh Pidi Baiq ini juga mendapat tempat di hati para remaja. Namun, novel dan film Dilan ini nggak hanya disukai sama anak remaja. Emak-emak muda pun yang memang mempunyai rasa era tahun 90an juga suka kan? Dan memang benar, beberapa teman saya yang sebaya juga merasakan efek after nonton Film Dilan kemudian baper yang berujung nonton nggak cukup sekali. Wow!

Iqbal yang awalnya ditunjuk langsung oleh Ayah a.k.a Pidi Baiq untuk meranin Dilan, banyak yang skeptis. Hal wajar memang, ketika yang sudah baca novelnya dan kemudian berintrepretasi untuk sok tahu siapa yang akan cocok merealisasikan sosok Dilan yang akan dibuat ke Film. Lalu, kontroversi pun banyak terjadi di kalangan netizen setelah mengumumkan Iqbal yang akan berakting sebagai Dilan. Tapi saya tetap caem-caem aja lah, karena pas saya kepoin, pilihan Iqbal yang diutus untuk meranin Dilan ini, ternyata hasil pilihannya Pidi Baiq sebagai penulis bukunya. Saya yakin, pilihan Pidi Baiq nggak perkara ngasal aja gitu. Terbukti omongan sang manajer Vanesha di IGnya bilang gini:




Setelah nonton tepatnya pada tanggal 1 Februari di CBD yang saat saya temui di Biokop, tumpah ruah anak ABG paket ciledug. Hal yang saya sadari setelah menononton film Dilan adalah jatuh hati sama Iqbal. Haha. Iqbal berhasil membuat diri yang uzur ini punya masa puber untuk kedua kalinya. Buat saya, Iqbal berhasil menjadikan film Dilan ini menjadi legit! Nggak tahu kenapa, kok saat saya memperhatikan Iqbal bermain di Dilan mulai kesemsem nggak keruan. Tatapan matanya ke Milea, berhasil membuat saya jadi deg-degkan sendiri. Syukurlah, nggak hanya saya yang merasa patut jatuh hati pada sosok Iqbal. Beribu-ribu komentar wanita-wanita matang pun hadir memberikan rasa yang podo ae.

Yeaah! Iqbal berhasil…! Good luck ale… Iqbal berhasil mematahkan keraguan pembaca Dilan.



Duhmak, jago banget sih Iqbal natap mesra lawan mainnya. Tapi, soal dia akting lagi ketawa dan marah-marah membuat saya ilfil seketika. Iqbal masih kurang dalam hal ini (kurang greget). Overall, saya suka lah sama Film Dilan ini, setelah saya membaca bukunya Dilan dengan seri lengkapnya yang pernah saya review di sini juga. Soal cerita nggak ada kecewanya acan, persis sama dengan yang ada di buku. Ya walau ada sebagian ceritanya yang detail namun tak begitu penting akhirnya dipangkas demi durasi. Saya nggak ada masalah dengan itu.

Untuk Vanesha, yang kali pertama terjun dalam dunia akting yang langsung ditunjuk sebagai Milea dalam Film Dilan sudah cukup baik. Namun, saya agak kecewa berat dengan peran Ira Wibowo sebagai bunda. Nggak sepadan sama karakter yang saya baca di novelnya. Menurut intrepretasi saya, bunda ini tipe karakter yang ceria. Nah, karena Ira Wibowo sudah biasa berakting dengan karakter yang sedih-sedih nan serius, berasa ada yang janggal saja saat berperan sebagai bunda di Film Dilan. Padahal, si bunda ini juga memiliki porsi yang legit dalam novel.

Lalu yang saya rasakan selama menonton adalah soal pergantian scene demi scene-nya yang terlalu cepat. Film ini sudah terlalu kuat dengan ceritanya, jadi untuk hal-hal sinematografi lainnya yang buruk memudarkan itu semua. Terlepas dari sinematografi, saya memang lebih fokus melihat peran Iqbal dan Vanesha dalam film ini.


AADC rasa zaman now. Bikin yang menonton gemes sama pasangan ini. Akhirnya ya, setelah Cinta dan Rangga.. Ada Dilan dan Milea di tahun 2018..

Sehari Sebelum Tahun 2018 di Telaga Menjer







Hari keempat di Wonosobo, agenda jalan-jalan kami lanjutkan ke Telaga Menjer. Karena dekat, lagi-lagi kami berkendara menggunakan motor. Kali ini, kakak saya tidak menjanjikan lamanya perjalanan, ia sudah mewanti-wanti saya agar selalu iring-iringan, ok noted!

Alhamdulillah, cuaca kian mendukung jalan-jalan kami, di luar sana cukup cerah. Selama perjalanan menuju Dieng, padat kendaraan, tidak sepi seperti ketika saya nyetir ke Tanjung Sari. Sampai di kawasan PLTU Menjer, banyak tikungan yang menanjak dan pemandangan perbukitan Telaga Menjer sudah terlihat, Ma sya Allah indah bat! Dan hanya setengah jam perjalanan, kami pun sampai. Biaya masuk tiket per-orang hanya 3000, murah kan?








Sampai di tempat tujuan, terlihat telaga yang luas sekali: terlihat bukit-bukit yang hijau. Nyegerin mata banget! Kami turun dengan anak tangga yang lumayan banyak. Nggak ketinggalan buat foto-foto dong, karena di Telaga Menjer emang asik banget buat foto-foto dengan nuansa telaga yang indah. Puas foto-foto, kami pun memutuskan untuk muterin danau pakai perahu. Sayang banget kan, udah sampai Telaga Menjer datang jauh-jauh dari Ciledug pulak, terus nggak ngerasain naik perahu di Telaga Menjer. Dengan harga tawar yang berombongan 4 dewasa, 3 anak, dan satu anak tanggung (i’m not sure my causin being adult or child? Because she’s still 10 years old). Penyewaan perahu dengan harga 50.000 berhasil ditawar.




Di perahu itu tidak ada penumpang lainnya, berasa private boat euy! Muterin danau kalau cuman bengong sih percuma, apalagi kalau udah di perahu begini, bisa buat foto lagi dan Telaga Menjer memang instagramable lho. Tap-tap kamera di HP pun kian banyak dan menghasilkan foto-foto yang sungguh keren. Di sesi foto itu pun, kami berencana ke Floating tempat selfie yang mengapung di sana. Tapi, beda perahu kata masnya. Beda perahu, beda lagi biaya untuk menuju Floating. Ya padahal, jarak dari tepian ke spot selfie itu nggak terlalu jauh kok. 10.000 per orang Cuy, kalau mau ke sana. Waktu itu kakak ipar saya yang nego harga, biar tarif per-orang dijadikan rombongan saja. Dan, ya! Dengan berdelapan orang termasuk 3 bocil, biaya perahu 50.000. Padahal, kami keukeuh 40.000 tapi masnya yang menang.

Ketika kami sampai di Floating as selfie place, tak ada pengunjung lain. Untuk sementara, tempat itu kami yang kuasai. Pas sampai, saya langsung hajar foto-foto. Kakak dan tante saya langsung makan karena menahan lapar dari tadi. Di Floating, ada tempat lesehan untuk makan gitu deh. Tadinya juga ada beberapa warung, namun entah kenapa warungnya sudah terbengkalai.






Saat sudah mau menyebrang untuk kembali pulang, tiba-tiba hujan turun deras sekali. Untungnya tidak berlangsung lama, mana kami belum shalat zuhur. Setelah hujan mereda, dengan cepat kami menuntaskan rihlah kami di Telaga Menjer. Naik ke atas tangga oh sungguh menantang, jarak anak tangga cukup tinggi ternyata. Lalu ketika menuju pintu utama Telaga Menjer, hujan turun lagi. Kami lantas menedu di Musala sekalian shalat Zuhur di sana, sayangnya tempat wudhu tidak ada di Musala. Toilet berada di dekat loket, yang mana saya pun kudu lari-lari kecil untuk menghindari hujan turun dengan mesranya.

Hujan pun mereda, kami bersiap pulang. Di tengah perjalanan, kami melipir ke Tempat Bakso Melati lumayan ramai yang makan di sini. Emang paling yahud dah, kalau udah dingin-dingin makan bakso.

Alhamdulillah hujan turun di saat kami selesai berkunjung ke Telaga Menjer, seperti waktu di Tanjung Sari, hujan turun ketika kami sudah puas mlaku-mlaku di Tanjung Sari. 

Tanpa Kuota, Selfie Sepuasnya di Tanjung Sari Wonosobo


Hari kedua (29 Desember 2017) di Wonosobo, awalnya sih mau ke Cikunir, di Dieng. Alhamdulillah curah hujan di Dieng tidak begitu besar seperti yang Kakak saya ucapkan sebelum berangkat ke Wonosobo, katanya sih, sampai terjadi longsor. Nah, pas saya sampai di Wonosobo longsor-longsoran gitu udah nggak sering kejadian, mungkin curah hujannya sudah mulai sedikit. Jadi bisa nih ke Cikunir, Kakak Ipar saya tanya-tanya temannya yang sudah pernah ke Cikunir, katanya, Cikunir trek jalanannya terjal. Jadi mikir-mikir lagi deh bawa bocil tiga yang mana cowoknya hanya Kakak Ipar yang ikut. Padahal, saya sudah semangat sekali bakal ke Cikunir, hiking sedikit lalu sampai sana, pemandangan ciptaan Allah sangat luar biasa indah. Awannya juga bisa terlihat, katanya bagaikan  di atas awan.

Lalu rencana ke Cikunir beralih ke Tanjung Sari. Berangkat menuju ke sana menggunakan sepeda motor. Tiga motor dipakai untuk jalan-jalan ke Tanjung Sari. Motor vespa dipakai Kakak Ipar saya yang memboncengi dua bocil, vario dipakai kakak bersama tante saya, dan saya menggunakan motor beat memboncengi satu bocil dan adik yang lagi puber.

Alhamdulillah, di luar sana cuaca cukup cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami berangkat pukul 08.30. Sepanjang jalanan yang saya lalui cukup menyenangkan: saya melewati pada kiri-kanan saya tebing dan sawah-sawah, plus dengan udaranya yang cukup segar. Hebatnya, saya tidak menggunakan jaket euy! Luar biasa, bukan karena sengaja, tapi lupa bawa apalagi pakai.

Insiden kesasar pun terjadi, saya kebablasan setengah jam dari TKP. Kok bisa? Iya, kakak saya yang tadinya di belakang tiba-tiba lenyap, mungkin saking saya menikmati perjalanan ini, saya jadi kalap ngegas. Jalanan yang saya susuri tidak padat kendaraan, banyak tikungan yang menaik ke atas: untungnya tidak ada bus-bus besar yang melintas, hanya mini bus. 
Super excited saat nyetir motor menuju Tanjung Sari yang sudah kebablasan melewati Desa Kepil, Teges Wetan. Sampai kebablasan jalan itu, karena saya juga mengestimasikan waktu perjalanan dari rumah ke Tanjung Sari sekitar satu jam, itu pun kata Kakak saya waktu saya menanyakan berapa lama perjalanannya. Saya kerap melihat jam tangan saya yang saat itu masih tersisa setengah jam lagi, saya dengan percaya diri ngegas motor sampai di titik saya kelelahan menyetir.

Kami pun berhenti di pinggir jalan dan tidak tahu sudah berada di mana. Buru-buru saya melihat layar HP, Whatsapp dari Kakak saya yang bilang, bahwa mereka sudah tiba dari tadi. Saya pun melihat jam chat kakak saya yang sudah lebih dari setengah jam yang lalu ia chat dan bahkan menelepon. Ok, untungnya saat saya memegang HP, HP-pun berdering kembali dan saya mengangkatnya. Akhirnya kami balik arah menuju Tanjung Sari dengan patokan yang sudah diberitahu. Untungnya, saat saya menyetir saya selalu mengingat macam spanduk atau pun nama jalanan yang sudah saya lewati.

Finally, kami sampai di Tanjung Sari dan melihat spanduk Tanjung Sari lalu saya bergumam dalam hati: pantas saja saya terlewat, wong spanduk bertuliskan Tanjung Sari ini telah memudar, kalah warna dengan spanduk makan yang terletak di bawahnya. Spanduk makan yang berwarna kuning gonjreng itu justru terlihat jelas dari beberapa meter saja dengan tulisan: Rumah Makan Tenda Biru. Padahal, selama saya nyetir, berharap menemukan Tanjung Sari dengan spanduknya yang mengagumkan. Harapan saya pupus ketika melihat spanduknya. Lalu, saya membayar tiket masuk wisatanya, yang dikenakan 7000 per-orang.

Tanjung Sari ini adalah kebon teh yang juga sebagai objek wisata dengan berbagai fasilitas menarik pengunjung, seperti dua kolam renang, spot selfie dengan latar perbukitan yang dihiasi pohon-pohon berwarna hijau atau pun bunga-bunga yang indah. 












Setelah puas bercengkrama dengan alamnya, kami pulang ke rumah. Alhamdulillah setelah misi rihlah selesai, di tengah perjalanan turun hujan dengan derasnya, dan kami berteduh di bengkel.


Itulah cerita perjalanan saya ke Tanjung Sari Wonosobo, mau tahu saya ke mana lagi? Klik di sini

From Ciledug to Wonosobo







Jadi ceritanya, saya tidak berencana apa pun untuk menghadapi tahun baru dengan jalan-jalan ke luar kota seperti tahun-tahun sebelumnya. Pergi ke Wonosobo untuk mengakhiri dan mengawali tahun baru adalah sebuah ketidaksengajaan karena melihat e-mail dari kantor yang masuk, bahwa akan ada cuti bersama yang mengiringi tanggal merah pada saat Natal dan tahun baru. Mulai tanggal 23 sampai 26 Desember 2017  dan keisi masuk kantor cuman dua hari yang terjepit di antara hari libur. Lalu, mulai tanggal 29 Desember 2017 sampai tanggal 2 Januari 2018 libur lagi. Saya merasa liburnya itu teramat panjang dan sangat kejepit sekali hingga saya berpikir, “dari pada sayang gini liburannya, cuman di rumah dengan estimasi hari libur yang lama, lebih baik saya ke Wonosobo saja.” 
Memutuskan long weekend untuk pergi ke Wonosobo adalah pilihan liburan yang murah dan tepat buat saya, dengan alasan: Pertama, akomodasi yang murah untuk perjalanan ke luar kota pada peak season, karena memang harganya tidak naik kalau long weekend seperti ini. Kedua, tidak perlu repot untuk jauh-jauh hari mendapatkan tiket bus yang available, karena bus ke Wonosobo dibuka pada satu waktu kita akan pergi juga. Ketiga, saya tidak perlu menginap di hotel dengan mengeluarkan biaya lagi, karena kakak saya tinggal di sana bersama suami.

Saat saya berpikir akan jalan-jalan ke Wonosobo, jujur saya tidak terlalu bersemangat dan excited seperti jalan-jalan ke kota lainnya. Karena saya beberapa kali hinggap ke Wonosobo dan inginnya berkelana ke kota yang belum pernah saya kunjungi. Walau sering saya berkunjung, namun ada beberapa spot objek wisata Wonosobo yang belum pernah saya kunjungi. Dari dulu, saya kepengin banget mencoba hiking ke gunung. Apalagi ini di Wonosobo, semacam gunung atau tempat-tempat tinggi di sana adalah destinasi favorit bagi pecinta gunung. Tapi, karena liburan (lagi-lagi) kali ini ke Wonosobo barengan saudara, kayaknya untuk hiking ke Gunung nggak dulu deh. Iya, si Tante dan anaknya juga ikut, nggak mungkin juga ke tempat-tempat tinggi hiking gitu.

Dari bulan kapan tau, hujan masih saja sering turun di Wonosobo. Keinginan saya untuk pergi ke Dieng, sepertinya tidak memungkinkan. Kakak saya bilang, di Dieng (atas) masih kerap terjadi longsor, dan di Wonosobo hampir tiap hari turun hujan. Saya sih pasrah saja akan ke mana nanti, yang ada di dalam pikiran saya adalah, “saya mau menghabiskan liburan panjang ini tidak di rumah.” Udah gitu aja.

Tanggal 27 Desember 2017 pagi hari pukul 08.00 saya dan ibu langsung cus ke loket Bus yang ada di Asrama Polri, Ciledug. Loket memang dibuka pada pukul tersebut untuk yang mau pergi pada saat hari itu juga. Seperti yang saya tulis sebelumnya, beli tiket untuk pergi ke Wonosoboon the spot.” Beli tiket bus ke Wonosobo, bukan hanya di Asrama Polri, di Pasar Lembang yang dijadikan terminal untuk bus-bus luar kota juga dibuka pada pukul yang sama. Bedanya, kalau ingin dapet duduk dengan kursi yang berada di depan, sebaiknya membeli tiket dari Pasar Lembang Ciledug saja.

Sebenarnya saya ingin sekali memesan kursi di depan, dan harusnya saya beli tiket di Pasar Lembang. Waktu ke Wonosobo sebelumnya, ada insiden paling tidak adil bagi saya dan keluarga yang saat itu sudah membeli tiket bus di Pasar Lembang. Kami mendapatkan kursi di depan dan saat sudah di bus, nomor kursi kami jadi berpindah tempat ke kursi persis di belakang penumpang lain yang menyelak. Ibu saya komplain ke loketernya yang saat itu kami naik bus dari Asrama Polri (rule-nya memang bisa kok, beli tiket bus di Pasar Lembang, dan naiknya baru di Asrama Polri). Anehnya, si Mbak beserta Sopirnya, tidak mengindahkan keluhan Ibu saya (karena ibu saya yang beli tiketnya) terjadi cek-cok mulut lah, tetap saja mereka yang tak mau kalah (jelas-jelas mereka yang salah). 

Setelah insiden yang tidak mengenakkan bagi saya dan keluarga, yang entah bagaimana mereka bisa selicik itu, Ibu dan saya jadi kapok untuk membeli tiket dari Pasar Lembang, ya takut-takut diperlakukan tidak adil lagi dari pihak PT. Sinar Jayanya.

Dan... pagi hari itu, di tanggal alhamdulillah, ibu saya tuntas membeli tiket bus ke Wonosobo. Seperti tidak disangka sebelumnya, saya kebagian kursi belakang! Saya sudah mulai uring-uringan melihat tiket yang sudah terbelikan oleh ibu. 



Kalau yang tahu bagaimana rasanya berada di bus dengan duduk di kursi belakang akan ada drama: pusing dan mual. Ya gimana lagi ye kan, tiket sudah dibeli dan bersyukur masih mendapatkan tiket bus: karena ini long wiken, pastilah penumpang akan penuh sekali. Dengan harga 100.000 menggunakan bus bisnis AC seat 3-2, Bus Sirna Jaya Jurusan Wonosobo akan berangkat pada pukul 14.00. Penjelasan soal waktu keberangkatan, bagi saya, kali pertama berangkat ke Wonosobo pada pukul 14.00. Biasanya Bus Jurusan Wonosobo mulai jalan pada pukul 16.00. Kata loketernya sih, karena long wiken dan di tol akan padat dengan kendaraan.  

Sebelum pukul 14.00 saya dan saudara sudah standby di Asrama Polri, menunggu bus datang. Telat setengah jam, bus akhirnya datang. Dan sekitar 14.45, bus mulai berangkat. Terjadi kemacetan yang parah di Bekasi, bus terus melaju hingga akhirnya sekitar pukul 19.30, sampailah di tempat ngasonya Bus Sirna Jaya di daerah... (((duh lupa))) 

Waktu yang disediakan hanya setengah jam untuk ishoma, kami buru-buru shalat Jamak dan Qashar maghrib – Isya, dan makanlah kami di bus yang sudah kami bawa dari rumah. Bus melanjutkan perjalanannya dan terus melaju. Yang saya rasakan saat duduk di kursi belakang, alhamdulillah saya tidak mual, karena sepanjang perjalanan saya pakai buat tidur ayam: bus mulai sering nyalip dan saya deg-degkan luar biasa. Hal yang paling mengasyikkan saat duduk di kursi belakang, saya merasa bagaikan naik roller coaster skala kecil. Waktu ada turunan, berasa ngilu euy. Perjalanan naik lalu turun ini berada di sekitaran Banjar Negara menuju kota Wonosobo.


Dan, finally, alhamdulillah kami sampai di rumah kakak saya pukul 03.00 subuh. Mau tahu, saya jalan-jalan ke mana saja setelah sampai di Wonosobo? klik di sini ya

HIDUP Lebih Produktif dengan Bullet Journal (Indonesia)

Lanjut mengulik isi dari bujo! Yay! Setelah penjelasan yang saya paparkan di postingan sebelumnya ini. Ini dia, isi dari bujo versi saya.

Untuk membuat bujo dalam waktu bulanan. Seperti yang lainnya, saya mengawali dengan membuat kalender bulan saat ini: November. Di sini, saya membuat untuk mencatat kegiatan penting saya tiap bulan: seperti taklem, menstruasi, trip, bahkan *maaf pup saya.

Untuk simbol bulat warna merah, saya tandai untuk jadwal mensturasi saya, sedangkan simbol bulat cokelat untuk jadwal pup saya. Kenapa saya harus menandai pup saya: Karena saya wanita yang kurang serat. Jadi jadwal kapan saya pup harus dicatat. Kalau beberapa hari saya tidak pup, di situ saya akan mulai memperbanyak serat. Saya lagi diet program penggemukan badan nih, jadinya saya juga butuh menu makanan sehat yang menggemukkan. Penasaran, seperti apa menu yang saya rancang? Tunggu postingan saya bulan depan yah!  




Tiap bulan, saya harus menetapkan goals saya, karena saya tidak mau setiap bulan tidak ada goals atau pencapaian hidup saya yang tidak bermanfaat. Saya buat hanya 3 poin yang menurut saya, goals ini harus terlaksana dengan baik. Kalau pun tidak goals, setidaknya saya tahu saya ingin mencapai apa dalam bulan ini.

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: Nabi saw bersabda, “Dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)



Karena kemalasan saya menjadi seorang blogger, untuk berapa bulan saya tidak posting sesuatu apa pun dalam blog saya, katakanlah saya hiatus atau hibernasi untuk menulis di blog. (males menulis menjadi kendala buat saya) Karena baiknya, kemalasan itu harus disingkirkan sejauh-jauhnya.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari malas, dan aku berlindung dari sifat penakut, dan aku berlindung dari pikun, dan aku berlindung dari bakhil.”

Untuk merangsang saya agar bersemangat dalam nge-blog, jadilah saya buat blog ideas dalam bulan ini yang harus saya posting. Karena sebenarnya, ide untuk menulis dalam blog sudah melimpah ruah di kepala dan belum terealisasikan di blog. Kemudian, saya mencatat sembrono saja di gawai saya. Dan nantinya, saya akan pilih ide yang banyak di notes gawai saya ke dalam blog ideas (yang harus saya posting untuk bulan ini) Rencananya sih, saya mau posting blog itu seminggu sekali setiap hari jum’at) untuk menulisnya bisa kapan pun dan di mana pun. Jadi, yang terpenting adalah postingan yang teratur untuk dapat perhatian dari google kalau traffic saya lancar dalam menulis di blog. hehehe 


Yay! Saya memang suka masak. Lagi-lagi kadang saya suka lupa mau masak apa kalau udah jatah hari libur saya di rumah. Recipe ideas ini saya buat bulanan. Karena saya hanya bisa masak di akhir pekan dan tidak pergi ke luar rumah.


Karena saya anaknya suka ngelamun, dan nggak baik juga kalau weekend nggak ke mana-mana dan nggak ngapa-ngapain. Saya membuat jadwal akhir pekan saya harus terisi dengan hobi atau kegiatan saya yang bermanfaat. Setidaknya, kalau saya tidak ke mana-mana, saya bisa ngapa-ngapain saja di rumah dengan kegiatan yang membuat saya fully happiness. Ada list tentang kegiatan saya selama weekend, yang nantinya akan saya isi ke dalam weekend list.

Weekly Spread

Tentang selama 7 hari yang sudah saya lalui, tentang rencana selama 7 hari yang akan saya penuhi. Jadi, semacam jadwal saya selama 7 hari ini.



Ada recite tracker: Saya ingin memulai lagi hafalan Al-Qur’an. Niat karena Allah, bukan karena ingin menjadi hafizah atau dielu-elukan orang. Big No! Trust me, dengan niat seperti itu kamu akan kalah sebelum perang. Karena memulai menghafal Al-Quran itu mudah sekali, yang susah justru mengulangi hafalanmu kembali. Hal ini yang saya rasakan, muraja’ah adalah hal yang sangat susah! Saya mengambil metode dari Ustaz Adi Hidayat, dengan menghafal 5 ayat tiap harinya. Untuk penjelasannya, saya akan posting di jadwal berikutnya. Tungguin ya!




Kalau kamu lihat bagan di atas, saya lebih banyak tracker saya untuk akhirat, mengapa? Karena saya mau tahu peningkatan dan penurunan ibadah saya selama hidup. Untuk Baca Al-Qur'an tidak saya buat, karena in sya Allah itu sudah menjadi habit saya seperti shalat 5 waktu.


Hal-hal apa saja yang saya ingin kerjakan di bulan ini. Dan list tersebut bisa saya masukkan dan sesuaikan dengan jadwal rutin saya (weekdays or weekend) Jadi, saya buat list-nya dulu di page ini sebanyak-banyaknya yang ingin saya lakukan.
Untuk yang wishlist, penjelasannya akan saya posting di jadwal berikutnya juga. Karena wish list yang saya buat dalam kategori tahunan (yang mana, tiap tahun saja akan di upgrade)



Ah! ini gunanya buat mengasah tulisan saya saja. Bisa diisi dengan quote atau curhatan saya sendiri.

Nah, itu tadi isi bujo saya pada bulan November. Jadi tiap bulan, pastinya akan di-upgrade dan untuk layout saya usahakan berganti. Dan, untuk weekly spread, tentunya saya akan upgrade setiap minggunya. 

Rasanya Bikin Bujo yang Kekinian





Bujo itu singkatan dari bullet journal. Semacam to do list kamu yang udah kamu plan agar hidupmu lebih terarah. Catat hal-hal apa pun juga bisa di bujo sih. Selain biar terarah, waktumu tidak akan terbuang sia-sia. Karena hidup jadi lebih produktif. Yaaay! Buat yang pelupa kayak aku, bujo ini berfaedah bingit.

Nah, kalau masalah me-manage apa pun udah biasa banget dari zaman masih sekolah SD. You know what pas SD saya sering banget buat jadwal keseharian saya dari mulai bangun sampai kembali tidur. Pake waktu, ditulis di buku tulis sidu terus ditempel di meja belajar. 
Beralih ke zaman SMP, udah ada tuh yang namanya orgi (singkatan dari buku organizer) dan binder. Fungsinya? Buat isi biodata anak kelas. Terus, punya beberapa buku journal (ini karena bokap sering banget dapet book journal dan dikasihkan ke saya).

Terus, zaman SMA waktu mondok, saya punya buku kecil dan hampir penuh dengan tulisan. Yap! Tulisan apa aja numpuk di sana. Mulai dari wishlist, curhatan, utang, catet PR apa aja yang kudu saya kerjakan, apa aja yang besok saya harus kerjakan, dll. Semacam bujo tapi tulisannya acak kadut gitu lho, gado-gado banget!

macam-macam bentukan notes gue (yang kebanyakan dikasih bokap)

Kebiasaan corat-coret itu sampai tahun 2013. Mulai dari tahun 2013 (kalau nggak salah) saya nggak mainan buku kecil itu lagi dengan coret-coretan. Saking, asiknya dengan media sosial. Jadinya, semua tulisan numpuk di gawai. Mulai dari curhatan, agenda hidup, dll.
  
Tahun 2013, saya memulai membuat life journal. Sifatnya lebih pribadi banget, dari hal cerita usia (semacam flashback), nulis kelebihan dan kekurangan diri yang saya sadari, terus wishlist saya catat dengan 100 poin yang saya tulisi entah itu terwujud atau belum, dll. Kan kita hanya berencana Allah yang menentukan. Karena bebikinan ngayal kayak gitu oh sungguh asik. Hehe.. 

Daaan.. mulai tahun 2017 inilah entah bagaimana saya jadi doyan searching bujo. Kemudian saya bergairah kembali untuk me-manage hidup. Karena menurut saya, bikin bujo kekinian itu seru. Saya bisa berkreasi sendiri. Hobi saya yang suka mainan kertas, tulisan serta gambar hadir lagi. 
Saya sih seneng banget bikin bujo kekinian. Ya selain biar hidupnya teratur, bujo adalah obat anti galau saya. 

Jadi penasaran nggak, bujo saya seperti apa? Boleh kok ditengok-tengok. Bujo saya bisa dilihat di sini. Semoga menginspirasi ya! Aammiinn.  

Baca buku Milea dulu baru kemudian Dilan

Awalnya, saya memang tidak terlalu tertarik dengan buku bacaan yang kisahnya anak-anak SMA gitu (karena lagi memang tidak tertarik dengan bacaan teenlit). Yang nulis Pidi Baiq: Dilan Adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan Adalah Dilanku Tahun 1991, dan Milea. Suara Dari Dilan. Buku ini laku di pasaran, banyak dibaca kaum muda. Dan buku ini akan difilmkan alias akan tayang di bioskop. Tapi, tetap saja kayak males tahu tentang buku ini, apalagi setelah Iqbal yang jadi Dilannya, denger-denger sih banyak yang nggak setuju kalau mantan Boyband Coboy Junior ini yang jadi Dilannya.

Lalu, pas saya lagi bener-bener bingung dengan… buku ringan apa lagi yang mau saya baca? saya ngobrol sama rekan kerja saya tentang buku dan penulis. Indri bilang, dia punya buku Dilan dan Mileanya Pidi Baiq. So, saya karena emang lagi mood mau baca novel yang ringan, saya berniat pinjam! Hehe iya, saya lagi getol banget pinjam novel sana-sini (iritan anaknya), haha.



Lalu, Indri membawakan novelnya, tapi yang ada hanya buku Dilan Adalah Dilanku Tahun 1991 dan Milea. Nah, Dilan yang pertamanya nggak ada di dia, dipinjam teman, katanya. Ya sudah, saya mau pinjam yang ada saja (ya dari pada nganggur nggak ada bacaan, kan). Saya Tanya, bedanya Milea sama Dilan apa? Nah, buat kamu yang pengin banget baca, ini penting disimak. “Judul Milea dari sudut pandang Dilan, dan judul Dilan dari sudut pandang Milea.” Ok, ini kayak buku Critical Eleven dan Diorama Rasa. Bedanya, bukunya Pidi Baiq ini dibuat terpisah. Jadi lebih banyak gitu pengisahannya.

Singkat cerita, saya membaca buku dengan judul Milea dulu. Eh kenapa bacanya nggak dari Dilan yang pertama dulu? Karena saya, anaknya penasaran. Saya lebih suka membaca yang dari sudut pandang Dilan dulu.

Pas baca… Eh, ini imah ringan banget, saya bacanya gak kerasa, cepet (((yang biasanya pakai acara gak fokus karena teralihkan oleh pikiran lain))) Baca buku Milea jadi kayak semasa bodo sama hal-hal lain, terhanyut banget pas baca!  

Eh, bukunya lucu juga. Saya baca buku ini jadi mengingatkan buku Lupus dengan gaya banyolannya si Lupus, kedekatan Lupus dengan maminya juga hampir-hampir mirip sama Dilan ke Ibundanya.

Iqbal dan Vanesha


Terus pas baca buku Milea, keingetan yang akan jadi tokoh utama dalam film ini adalah Iqbal. Langsung meyakinkan diri: bisa kok bisa, pasti Iqbal bisa meranin sebagai Dilan yang caur, suka ngebanyol, dan jagoan. Melihat dari Iqbal yang mantan boyband, saya berpikir Iqbal memang nggak pantas saja jadi Dilan. Kayak beda 180 derajat, emang bisa Iqbal jadi caur kayak Dilan? Emang bisa Iqbal jadi jagoan kayak Dilan? Dan pikiran-pikiran semacamnya. Jaadi, ya kita saksikan saja bulan Desember 2017 yang nanti bakal tayang di Bioskop. Aah can’t wait. Kan yang memilih juga penulisnya sendiri kan, jadi kayak si Ayah (sebutan Pidi Baiq) yang tahu pantas atau tidaknya Iqbal meranin sebagai Dilan. Awalnya, buku karya Pidi Baiq ini malah tidak mau difilmkan lho, entah ada angin apa, si Ayah yang The Panas Dalam. Akhirnya mengizinkan bukunya dibuat film.

Launching pemilihan Iqbal sebagai Dilan, justru belakangan diinformasikan setelah akhirnya Vanesha Prescilla yang terpilih untuk berperan sebagai Milea. Kalau untuk Vanesha yang meranin sebagai Milea, seperti dari postur dan raut mukanya saya rasa udah cocok. Tapi ya, entah pas adu acting dengan Iqbal nanti, pasalnya, Vanesha kali pertama bermain acting dalam film lho. 

Hangout Seru di Paviliun 28

Alhamdulillah, akhirnya saya memenangkan giveaway nonton film Kartini, bareng Gita Gutawa yang diselenggarakan oleh portal berita merahputih.com. Karena masing-masing pemenang mendapatkan dua tiket. Saya mengajak teman saya untuk menemani kesepian saya. Eits, kalem, masih mahram kok. Saya ajak Mba Tree untuk bertemu di TKP, Plaza Senayan. Setelah kami menonton, kami buru-buru beranjak dari Plaza Senayan untuk mencari makan di luar Mall. (karena makan di mall terlalu sudah biasa buat saya dan Mba Tree) Buat yang penasaran review sama film Kartini, kamu bisa cek di sini ya.

Menuju parkiran, saya dan Mba Tree terlalu bingung menentukan tempat kulineran yang asik buat kami jajahi. Saya menawari Mba Tree untuk singgah di Paviliun 28, karena saya sudah lama sekali tahu dan penasaran dengan tempatnya yang kerap saya lihat hanya melalui instagram. Juga dari youtuber, Bena Kribo yang mengadakan acara lamarannya di sana.
Motor saya melaju pelan-pelan dari arah dr. Moestopo menuju kawasan Blok M dan tibalah di Petogogan, Paviliun 28. Tada…

Saya agak kaget pas mau markir motor tepat di pintu depan Paviliun, Bo, parkiran motor di mana neeh? Yang saya lihat penuh dengan mobil yang terparkir rapi. Nggak lama saya keki karena parkiran motor, Kang parkir manggil saya dengan maksud parkiran motornya disediakan di tempat lain (yang entah itu rumah sopose). Oke and fine, saya disebrangi sama Kang Parkirnya. Untungnya saya nggak pake acara pegangan tangan dan nyebrang berdua sama Kang Parkirnya.


Paviliun 28 ini-itu, tempat yang signature menunya adalah jamu loh teman-teman, makanya ada tulisannya segede alaihim gambreng di dapurnya BAR JAMU! Nah, saya ke sini selain kepo sama tempatnya, saya mau nyobain jamu di mari! Yup saya suka jamu, ada yang nggak suka gitu?
Pas masuk, saya lagi-lagi keki sama suasananya, biasalah yah, anak-anak muda pas malam minggunya melipir di Paviliun 28 itu karakternya kayak gimana. Bau asap rokok defected dan saya lihat minuman keras, MIRAS, apa pun namamu.. tak akan kusentuh lagi dan tak akan kusentuh lagi.. (cie ngedangdut woy?)

Di Paviliun 28 ini, termasuk tempat hangout yang baru berjalan sekitar 3 tahun lho. Banyak musisi indie yang jamming di sini. Kadang, tempat ini juga dipakai buat launching buku, seminar, atau event-event lainnya. Mungkin buat kamu yang mau mengadakan gathering entah apa pun itu, bisa juga nih reservasi tempatnya.

Buat yang suka film-film indie, setiap hari Jum’at dan Sabtu, ada bioskop kecilnya juga. Yep, ada! Tapi bayarrrr, HTMnya 30 ribu.    

Selain ada beberapa jenis minuman jamu yang disediakan, di tempat ini kamu juga bisa memesan beberapa aneka makanan berat dan semi berat. Aish, pokoknya mau ngemal-ngemil di sini juga ada lah. Makanan berat yang saya pesan nasi bakarnya enak. Emaaf lho, Saya foto nasi bakarnya setelah saya lahap habis nasinya. Maklum keburu lapar, Cuy. Setelah makan kenyang, saya memutuskan untuk mencoba minum jamu. Tadinya saya pesan jamu nafsu makan yang cuman 15 ribu saja. Ternyata nggak ada. Dan saya pesan beras kencur seharga 25 ribu kalau tidak salah. Rasanya enak, beda dari beras kencur mbak-mbak jamu gendongan. 

nasi bakar habis dimakan :D

beras kencurnya naik kelas

Jangan khawatir nyari musala, di Paviliun ada tempat musalanya. Saya sempat ke kamar kecilnya dan lucu. Ada beberapa gambar jadul yang terbingkai dengan figura. Di Pavilun nuansa vintage-nya berasa banget. Bangku dan mejanya ala-ala jadul. 

Saat saya mengobrol lama dengan Mba Tree, ada seorang wanita yang mukanya tak asing lagi. Saya bertemu Kanya! siapa itu Kanya? bisa cek di sini ya
Dia tepat di belakang saya, agak lama sih mau nyapa. Dan akhirnya saya menyapanya, untungnya Kanya ngeh siapa saya, dengan memperkenalkan diri saya yang pernah chatt via twitter. Nggak lama, ada cowok juga yang wajahnya saya kenal juga, ada Bejana Waktu alias Anes.

Kanya ini artis soundcloud dan Anes itu seleb twitter kalau bisa dibilang. Doi terkenal aktif di dunia musik, beberapa band indie kenal akrab dengan Anes. Dan Anes itu temennya Michan juga. Michan teman kantor saya di Agromedia Group. Dan usut punya usut, si Kanya kenal Retno, salah satu teman blogger saya juga. Biasalah Cuy, dunia pertemanan saya sesempit ini. :D 

Saya dan Kanya cukup lama ngobrol. Saling tanya saja. Dan Kanya juga memperkenalkan teman band indienya dari Bandung yang akan tampil di sini, Garamerica. Karena saya dan Mba Tree diminta untuk menyaksikan jamming dari garamerica, kami mendengarkan beberapa lagu ciptaan mereka sendiri. Cukup menghibur malam minggu saya kali ini. Akhirnya bersentuhan langsung dengan Paviliun 28, akhirnya kopdaran sama Kanya dan Anes, dan kenalan dengan garamerica. Yaay!

garamerica
Jika kamu ingin ke tempat ini, lokasinya di Jl. Petogogan No. 25 Kebayoran Baru-Jakarta Selatan. Boleh dimampirin kakak..