Kamu harus tahu ini sebelum memutuskan untuk Gym





Awal nge-gym dan memasuki dunia sosial yang baru, tentunya ada rasa canggung dan malu. Begitu pun dengan saya, untungnya ada Rianti, teman kerja saya yang sudah lebih dulu jadi member di Gold Gym. Hari pertama, saya ditemani Rianti dan mencoba memakai PT. Dan, langsung mulai mengenal dan praktik menggunakan alat-alat gym.
Saya bilang ke PT yang bernama Dendi, saya mau nge-gym dengan goal menggemukkan badan. Lalu, saya menimbang. Alhamdulillah, metabolisme tubuh saya pada usia 18 tahun. Dan lagi-lagi, berat badan ideal saya kurang 10 kg. Lalu, mulailah praktik workout bersama Dendi (trial PT yang didapatkan di Gold Gym, setelah mendaftar jadi member). Hari pertama itu saya merasa kurang sreg sama Dendi. Dendi sempat bilang, bahwa saya harus banyak-banyakin olahraga kardio, biar nafsu makan saya bertambah. Setelah saya googling sana-sini dan mengenal Alvin Hartanto di Youtube. Justru tubuh ectomorph ini, jangan sampai mengenal olahraga kardio secara berlebihan, karena saya harusnya mendapatkan kalori yang lebih banyak, bukannya membakar kalori. Istilahnya harus Kalori Surplus!
Dan ini nih, yang harusnya kamu tahu sebelum daftar jadi angggota Gym.

Niat yang kuat
Sebelum kamu gym, kamu harus benar-benar niat! Ya bukan sembarang niat, sayang duitnya kalau sebulan sampai tiga bulan kamu belum mulai ada peningkatan. Secara kalau kamu mau hidup sehat, nggak perlu pergi ke gym juga bisa kok, cukup workout di rumah juga jadi. Semacam lari pagi, sepedaan, atau lihat di youtube untuk workout-nya.

Tahu Goals-mu
Ke gym itu pasti ada goals-nya.
1. Mau naikin masa otot agar badan jadi terlihat toned dengan proses bulking (menaikkan masa otot, dan menjaga lemak agar tidak naik) Caranya, kamu bisa bermain beban. Dan ingat, untuk menggemukkan badan kamu harus kalori surplus!
2. Mau kurusin badan dengan proses cutting (maksimalkan untuk membakar lemak dan menjaga otot) Caranya, kamu bisa bermain beban dan latihan kardio. Dan yang perlu kamu ingat untuk menguruskan badan, kamu harus kalori defisit.   
3. Maintenance, badannya udah ideal banget tapi perlu banget dijaga.

3 rumus
Faktor agar latihan kita berhasil itu nggak cukup hanya rajin latihan. Yang perlu kamu perhatikan adalah tiga rumus ini.
1.       Pola makan
2.       Istirahat yang cukup
3.       Rajin latihan
-Pola makan, tentunya makan yang mencukupi nutrisimu. Balik lagi ke goals, kalau kamu mau gemukin badan, tentunya yang kamu butuhkan adalah kalori surplus. Begitu sebaliknya, buat yang ingin menguruskan badan, kalori defisit. 
-Istirahat yang cukup minimal 6 jam atau paling bagus lagi sih 8 jam dalam sehari.

- Untuk latihan, latihan selama 3 kali dalam seminggu saya rasa sudah cukup, lalu mulai disesuaikan dengan pola makan dan jadwal istirahat yang cukup deh. 

Jangan menyerah di tengah jalan kalau sudah terlanjur nge-gym. Jangan malas! Kamu bisa! 

Cerita Orang Terlalu Kurus yang Memutuskan untuk nge-Gym






Namanya juga wanita, siapa sih yang nggak kepengin punya bentuk tubuh ideal yang fit and shape? Punya payudara padat berisi, pantat montok, lengan kencang nggak bergelambir, perut kencang, dan badan yang ramping. Saya yakin, ini adalah impian semua wanita! Apa mungkin, tubuh wanita juga dijajah oleh mata laki-laki yang menginginkan keseksian tubuh kita, sehingga kita mati-matian mau melakukannya hanya karena laki-laki yang disukai (mungkin) atau perintah suami yang ingin kepuasan terhadap tubuh sang istri?

Ya tanpa kita sadari, memang kita sedang dijajah mata laki-laki kok. Mata laki-laki mana sih, yang nggak super doyan sama indahnya lekukan-lekukan tubuh wanita?
Saya sendiri punya bentuk tubuh yang kurus, begeng, ceking, kerempeng, and you named it. Kalau nama kerennya mah, saya ada pada bentuk ectomorph. Nggak sedikit yang bilang dengan canda: awas ketiup angin, nanti terbang, tinggal kentut sama tulang doang, awas tulangnya patah, dll. Dah aku mah apa atuh, tubuh kurus yang kupunya bullyable banget. Dan nggak orang gemuk saja yang bisa di-buly, orang kurus pun juga bisa di-buly.

Lama-lama saya muak juga dengar ocehan yang kerap terdengar dari ocehan para teman saya. Padahal, saya sudah cukup bahagia dengan bentuk tubuh yang saya miliki, apalagi tubuh sekurus ini juga sehat wal ’afiat. Iya, sehat, Alhamdulillah.

Dulu, ketika pada tahun 2013, tak sengaja diajak teman untuk cek metabolisme tubuh menggunakan timbangan digital. Saya cukup tercengang, waktu usia 27 tahun, metabolisme tubuh saya seperti usia 16 tahun. Itu artinya, kesehatan saya bagus. Alhamdulillah. Sayangnya, berat badan ideal saya kurang sekali. Harus menambah berat badan sampai 10 kg. Buat saya, nambah sekilo saja susahnya minta ampun.

Ketika saya berniat untuk menggemukkan badan, saya banyak googling artikel tentang tips untuk menaikkan berat badan. Banyak artikel yang menyarankan untuk makan banyak, padahal saya pun doyan makan. 
Namun, pada kenyataannya, makan banyak tidak membuat badan saya berkembang merata. Hanya perut buncit yang paling menonjol di antara lemak-lemak yang saya punya.


Saya sedih, kenapa usaha makan banyak saya tidak mendapatkan hasil? Dan, di artikel lainnya menyarankan bahwa badan kurus saya harus ditambah dengan masa otot. Yap, saya harus nge-gym untuk membentuk otot agar berkembang dan membuat badan saya jadi fit and shape. Tahun 2014 saya berniat untuk nge-gym, niat saya ternyata terulur begitu lama, karena ingin mencari partner gym, kecocokan waktu, dan juga uang. Saya banyak pertimbangan, niat saya yang menggebu-gebu jadi luntur. 

Dan, tahun 2018 saya sudah daftar di Golds Gym. 

"Kamu Harus Tahu Ini Sebelum Memutuskan untuk Gym"

Pengalaman Unspiritual Waktu Umrah: Kali Pertama Umrah

Lilis ke Baitullah, aku nitip doa. Alhamdulillah semoga diijabahi oleh-Nya




Untuk umat muslim, siapa sih yang tidak bercita-cita pergi ke Baitullah melakukan ibadah haji maupun umrah. Semua umat muslim pasti ingin ke sana. Begitu pun dengan saya, tapi keinginan tersebut justru menggebu setelah saya menginjakkan kaki di tanah suci saat umrah.

Lah sebelumnya nggak pengin ke sana ta? Jujur, dulu zaman saya masih asyik-asyikkan kenal dunia, saya tidak ada kemauan sama sekali untuk pergi ke sana. Saat adik saya pergi umrah terlebih dulu bersama Ayah, saya tidak sama sekali iri. Pun tidak saya rasakan sama sekali rasa iri, ketika melihat unggahan foto umrah teman-teman berkeliaran dengan giat di Facebook.

Dan sewaktu saya diberitahukan Ibu, bahwa Ayah berniat memberangkatkan saya pergi umrah bersamanya nanti yang entah kapan. Kabar itu saya dengar waktu tahun 2010: waktu saya masih kuliah, waktu saya gemar meracik dosa, waktu saya tidak banyak pengin ini-itunya, waktu saya masih pengin jalan-jalan, asyik-asyikkan sama teman.

Ketika mendengar kabar bahwa saya akan umrah, seharusnya saya bahagia, senang atau terharu. Namun yang saya rasakan saat itu flat dan lebih banyak kecemasannya. Kenapa? Saya berpikir waktu itu: di tahun itu saya terlalu banyak dosa, saya tak pantas ada di rumah Allah, saya tidak pantas beribadah di sana. Dan yang saya takuti adalah pembalasan Allah waktu saya berbuat dosa di Indonesia.

Selama saya dapat kabar akan umrah, saya memang tidak terlalu berharap banyak akan pergi ke sana, yang saya pikirkan adalah dosa yang pernah saya perbuat dan ingin mendapatkan ketenangan. Bahkan saya hampir lupa dengan kabar saya akan umrah. Saya benar-benar fokus ingin mendapatkan ketenangan dan kedamaian batin saya yang terluka (serius nih).

Lalu saya mulai mengambil sikap, lebih baik saya mengoptimalkan ibadah saya dulu sebelum menginjakkan kaki di tanah suci. Yang saya lakukan tidak ada perubahan, hingga tahun 2012 saya baru memulai perbaikan diri. Saya benar-benar mengencangkan ibadah, saya meluruskan niat saya yang salah waktu itu: karena saat itu saya ingin menikah dan ingin cepat-cepat mendapatkan ketenteraman jiwa karena masalah percintaan saya yang terlalu lemah. 
  
Saya sempat merasa minder dengan diri, saya krisis kepercayaan diri dengan jodoh yang tak kunjung saya dapatkan, saya merasa tidak laku, saya merasa laki-laki tidak ada yang suka sama saya sehingga saya sulit dapat jodoh.
Di tahun-tahun perbaikan, saya lebih senang melantunkan bacaan Talbiah:

Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Innalhamda wan-ni'mata
laka wal mulk, laa syariikalak.

Qadarullah, Alhamdulillah selama 4 tahun menunggu dengan abai. Pada tahun 2015, akhirnya saya menginjakkan kaki di tanah suci. Memang benar, Allah yang paling tahu dari pada hamba-Nya. Allah memberikan waktu yang tepat di saat saya lagi butuh banget: yaitu sebuah ketenangan.

Entah kenapa, saat tiba di Bandar Udara King Abdul Aziz, perasaan saya kayak senang gitu, terus pas nyampe Madinah apalagi, udaranya, orang-orangnya: bikin ademm banget. Jadi kayak tenang, nggak kalut gitu. Kalau biasanya saya liburan ke tempat lain, ada saja sedetik kalut. Nah, yang ini nggak sama sekali. Pokoknya tenang luar dan dalam dah. Dan, selama di Madinah pengalaman unik pun terjadi.

Pengalaman yang membuat krisis kepercayaan diri saya soal jodoh, lambat laun mulai stabil. Allah memberikan teguran dan hikmah dengan lembut kepada saya. Dan baru saya tahu setelah umrah beberapa bulan kemudian. Jadi, pengalamannya begini teman-teman.

Waktu di Madinah, setiap kali saya mampir ke toko-toko untuk sekadar melihat barang atau membeli, kerap kali saya ditegur dan diajaki menikah sama si pedagang arab yang hidungnya mancung-mancung. Dari toko ke toko Madinah, tentunya saya mengajak sepupu saya yang cowok untuk menemani saya saat tawaf toko di Madinah. Awalnya mereka lihat saya, lalu bilang: Indonesia?/udah nikah?/udah punya suami? Ya saya jawab jujur lah, belum. Terus langsung diajak nikah (waktu itu si Mas Arabnya bilang pakai bahasa Indo). 

Saya digoda, tapi nggak sampai dicolek-colek ya (seperti ada beberapa cerita jamaah Indonesia pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat umrah atau pun haji: dan ini juga salah satu kecemasan saya sebelum umrah).

Jadi, Mas-mas Arab itu mempunyai cara yang santun. Sepupu saya yang didekati (istilahnya mah PDKT sama mahram saya kali ya). Lalu ada drama, si sepupu saya pakai dicium-cium pipinya pulak sama tuh Mas Arab, mungin biar akrab gitu kali ya. Mas Arab ini pun maksa buat tahu jawabannya, saya tak mengiyakan atau pun memberikan penolakan. Ya namanya juga digodain kan ya, masa iya dibaperin say kan nggak mungkin juga. Hahha, padahal saat itu saya memang ngebet banget nikah!  

Kalau saya hitung-hitung, ada sekitar 4 Mas Arab yang suka ke saya, nggak tanggung-tanggung, langsung diajak nikah alias jadi istrinya. Sampai saya membuat skenario ke sepupu saya, menjadikan sepupu sebagai suami saya. Pas mau mampir ke toko lainnya, sepupu dan saya sudah menduga pasti saya digodain lagi. Dan, benar saja, untung saya sudah siapkan scenario sama sepupu yang ngaku jadi suami suami saya kalau ditanya saya sudah nikah atau belum. Tapi, nih orang arab bilang: mana cincinnya? nggak ada cincin kawinnya? Dan, Mas Arab ini mulai PDKT lagi. Seketika itu, saat saya ingin membeli barang harganya dikasih murah, Alhamdulillah.


FYI, saya tiap ke toko itu pakai masker lho. Kok ya, mau ngajakin saya buat jadi istrinya? Yakin wajah saya mulus, atau wajah saya nggak kenapa-kenapa. Kan muka saya tertutup sama masker.  Apa karena emang orang arab doyan sama orang Indonesia ya? Ah sudahlah, nda penting dipikirin. Anehnya, kejadian ini saya alami saat di Madinah saja, sedangkan di Mekah malah nggak ada. 

Di Tanah Suci, mungkin, kamu pun juga bisa saja mengalami kejadian yang unik dan membuatmu terpekur saat itu. Oya, semoga yang belum ke Tanah Suci juga bisa ke sana ya, yang sudah pernah semoga kita ke sana lagi ya. Aaamiinn.  

Review Dilan: AADC rasa ZAMAN now






Akhirnya.. Dilan 1990 tayang juga di bioskop tepatnya mulai tanggal 25 Januari 2018. Dari awal, saya cukup menduga kebanyakan penonton yang datang adalah kalangan millenials, karena emang segmentasinya remaja kan. Terlebih lagi yang menjadi tokoh utamanya Iqbal sebagai Dilan. Tahu sendiri, Iqbal ini semenjak nongol di dunia entertain punya fansnya sendiri yang bocah-bocah alus a.k.a ABG dan itu terbilang banyak. Terlepas dari siapa yang menjadi tokoh utamanya, novel yang ditulis sendiri oleh Pidi Baiq ini juga mendapat tempat di hati para remaja. Namun, novel dan film Dilan ini nggak hanya disukai sama anak remaja. Emak-emak muda pun yang memang mempunyai rasa era tahun 90an juga suka kan? Dan memang benar, beberapa teman saya yang sebaya juga merasakan efek after nonton Film Dilan kemudian baper yang berujung nonton nggak cukup sekali. Wow!

Iqbal yang awalnya ditunjuk langsung oleh Ayah a.k.a Pidi Baiq untuk meranin Dilan, banyak yang skeptis. Hal wajar memang, ketika yang sudah baca novelnya dan kemudian berintrepretasi untuk sok tahu siapa yang akan cocok merealisasikan sosok Dilan yang akan dibuat ke Film. Lalu, kontroversi pun banyak terjadi di kalangan netizen setelah mengumumkan Iqbal yang akan berakting sebagai Dilan. Tapi saya tetap caem-caem aja lah, karena pas saya kepoin, pilihan Iqbal yang diutus untuk meranin Dilan ini, ternyata hasil pilihannya Pidi Baiq sebagai penulis bukunya. Saya yakin, pilihan Pidi Baiq nggak perkara ngasal aja gitu. Terbukti omongan sang manajer Vanesha di IGnya bilang gini:




Setelah nonton tepatnya pada tanggal 1 Februari di CBD yang saat saya temui di Biokop, tumpah ruah anak ABG paket ciledug. Hal yang saya sadari setelah menononton film Dilan adalah jatuh hati sama Iqbal. Haha. Iqbal berhasil membuat diri yang uzur ini punya masa puber untuk kedua kalinya. Buat saya, Iqbal berhasil menjadikan film Dilan ini menjadi legit! Nggak tahu kenapa, kok saat saya memperhatikan Iqbal bermain di Dilan mulai kesemsem nggak keruan. Tatapan matanya ke Milea, berhasil membuat saya jadi deg-degkan sendiri. Syukurlah, nggak hanya saya yang merasa patut jatuh hati pada sosok Iqbal. Beribu-ribu komentar wanita-wanita matang pun hadir memberikan rasa yang podo ae.

Yeaah! Iqbal berhasil…! Good luck ale… Iqbal berhasil mematahkan keraguan pembaca Dilan.



Duhmak, jago banget sih Iqbal natap mesra lawan mainnya. Tapi, soal dia akting lagi ketawa dan marah-marah membuat saya ilfil seketika. Iqbal masih kurang dalam hal ini (kurang greget). Overall, saya suka lah sama Film Dilan ini, setelah saya membaca bukunya Dilan dengan seri lengkapnya yang pernah saya review di sini juga. Soal cerita nggak ada kecewanya acan, persis sama dengan yang ada di buku. Ya walau ada sebagian ceritanya yang detail namun tak begitu penting akhirnya dipangkas demi durasi. Saya nggak ada masalah dengan itu.

Untuk Vanesha, yang kali pertama terjun dalam dunia akting yang langsung ditunjuk sebagai Milea dalam Film Dilan sudah cukup baik. Namun, saya agak kecewa berat dengan peran Ira Wibowo sebagai bunda. Nggak sepadan sama karakter yang saya baca di novelnya. Menurut intrepretasi saya, bunda ini tipe karakter yang ceria. Nah, karena Ira Wibowo sudah biasa berakting dengan karakter yang sedih-sedih nan serius, berasa ada yang janggal saja saat berperan sebagai bunda di Film Dilan. Padahal, si bunda ini juga memiliki porsi yang legit dalam novel.

Lalu yang saya rasakan selama menonton adalah soal pergantian scene demi scene-nya yang terlalu cepat. Film ini sudah terlalu kuat dengan ceritanya, jadi untuk hal-hal sinematografi lainnya yang buruk memudarkan itu semua. Terlepas dari sinematografi, saya memang lebih fokus melihat peran Iqbal dan Vanesha dalam film ini.


AADC rasa zaman now. Bikin yang menonton gemes sama pasangan ini. Akhirnya ya, setelah Cinta dan Rangga.. Ada Dilan dan Milea di tahun 2018..

Sehari Sebelum Tahun 2018 di Telaga Menjer







Hari keempat di Wonosobo, agenda jalan-jalan kami lanjutkan ke Telaga Menjer. Karena dekat, lagi-lagi kami berkendara menggunakan motor. Kali ini, kakak saya tidak menjanjikan lamanya perjalanan, ia sudah mewanti-wanti saya agar selalu iring-iringan, ok noted!

Alhamdulillah, cuaca kian mendukung jalan-jalan kami, di luar sana cukup cerah. Selama perjalanan menuju Dieng, padat kendaraan, tidak sepi seperti ketika saya nyetir ke Tanjung Sari. Sampai di kawasan PLTU Menjer, banyak tikungan yang menanjak dan pemandangan perbukitan Telaga Menjer sudah terlihat, Ma sya Allah indah bat! Dan hanya setengah jam perjalanan, kami pun sampai. Biaya masuk tiket per-orang hanya 3000, murah kan?








Sampai di tempat tujuan, terlihat telaga yang luas sekali: terlihat bukit-bukit yang hijau. Nyegerin mata banget! Kami turun dengan anak tangga yang lumayan banyak. Nggak ketinggalan buat foto-foto dong, karena di Telaga Menjer emang asik banget buat foto-foto dengan nuansa telaga yang indah. Puas foto-foto, kami pun memutuskan untuk muterin danau pakai perahu. Sayang banget kan, udah sampai Telaga Menjer datang jauh-jauh dari Ciledug pulak, terus nggak ngerasain naik perahu di Telaga Menjer. Dengan harga tawar yang berombongan 4 dewasa, 3 anak, dan satu anak tanggung (i’m not sure my causin being adult or child? Because she’s still 10 years old). Penyewaan perahu dengan harga 50.000 berhasil ditawar.




Di perahu itu tidak ada penumpang lainnya, berasa private boat euy! Muterin danau kalau cuman bengong sih percuma, apalagi kalau udah di perahu begini, bisa buat foto lagi dan Telaga Menjer memang instagramable lho. Tap-tap kamera di HP pun kian banyak dan menghasilkan foto-foto yang sungguh keren. Di sesi foto itu pun, kami berencana ke Floating tempat selfie yang mengapung di sana. Tapi, beda perahu kata masnya. Beda perahu, beda lagi biaya untuk menuju Floating. Ya padahal, jarak dari tepian ke spot selfie itu nggak terlalu jauh kok. 10.000 per orang Cuy, kalau mau ke sana. Waktu itu kakak ipar saya yang nego harga, biar tarif per-orang dijadikan rombongan saja. Dan, ya! Dengan berdelapan orang termasuk 3 bocil, biaya perahu 50.000. Padahal, kami keukeuh 40.000 tapi masnya yang menang.

Ketika kami sampai di Floating as selfie place, tak ada pengunjung lain. Untuk sementara, tempat itu kami yang kuasai. Pas sampai, saya langsung hajar foto-foto. Kakak dan tante saya langsung makan karena menahan lapar dari tadi. Di Floating, ada tempat lesehan untuk makan gitu deh. Tadinya juga ada beberapa warung, namun entah kenapa warungnya sudah terbengkalai.






Saat sudah mau menyebrang untuk kembali pulang, tiba-tiba hujan turun deras sekali. Untungnya tidak berlangsung lama, mana kami belum shalat zuhur. Setelah hujan mereda, dengan cepat kami menuntaskan rihlah kami di Telaga Menjer. Naik ke atas tangga oh sungguh menantang, jarak anak tangga cukup tinggi ternyata. Lalu ketika menuju pintu utama Telaga Menjer, hujan turun lagi. Kami lantas menedu di Musala sekalian shalat Zuhur di sana, sayangnya tempat wudhu tidak ada di Musala. Toilet berada di dekat loket, yang mana saya pun kudu lari-lari kecil untuk menghindari hujan turun dengan mesranya.

Hujan pun mereda, kami bersiap pulang. Di tengah perjalanan, kami melipir ke Tempat Bakso Melati lumayan ramai yang makan di sini. Emang paling yahud dah, kalau udah dingin-dingin makan bakso.

Alhamdulillah hujan turun di saat kami selesai berkunjung ke Telaga Menjer, seperti waktu di Tanjung Sari, hujan turun ketika kami sudah puas mlaku-mlaku di Tanjung Sari. 

Tanpa Kuota, Selfie Sepuasnya di Tanjung Sari Wonosobo


Hari kedua (29 Desember 2017) di Wonosobo, awalnya sih mau ke Cikunir, di Dieng. Alhamdulillah curah hujan di Dieng tidak begitu besar seperti yang Kakak saya ucapkan sebelum berangkat ke Wonosobo, katanya sih, sampai terjadi longsor. Nah, pas saya sampai di Wonosobo longsor-longsoran gitu udah nggak sering kejadian, mungkin curah hujannya sudah mulai sedikit. Jadi bisa nih ke Cikunir, Kakak Ipar saya tanya-tanya temannya yang sudah pernah ke Cikunir, katanya, Cikunir trek jalanannya terjal. Jadi mikir-mikir lagi deh bawa bocil tiga yang mana cowoknya hanya Kakak Ipar yang ikut. Padahal, saya sudah semangat sekali bakal ke Cikunir, hiking sedikit lalu sampai sana, pemandangan ciptaan Allah sangat luar biasa indah. Awannya juga bisa terlihat, katanya bagaikan  di atas awan.

Lalu rencana ke Cikunir beralih ke Tanjung Sari. Berangkat menuju ke sana menggunakan sepeda motor. Tiga motor dipakai untuk jalan-jalan ke Tanjung Sari. Motor vespa dipakai Kakak Ipar saya yang memboncengi dua bocil, vario dipakai kakak bersama tante saya, dan saya menggunakan motor beat memboncengi satu bocil dan adik yang lagi puber.

Alhamdulillah, di luar sana cuaca cukup cerah, tidak hujan dan tidak panas. Kami berangkat pukul 08.30. Sepanjang jalanan yang saya lalui cukup menyenangkan: saya melewati pada kiri-kanan saya tebing dan sawah-sawah, plus dengan udaranya yang cukup segar. Hebatnya, saya tidak menggunakan jaket euy! Luar biasa, bukan karena sengaja, tapi lupa bawa apalagi pakai.

Insiden kesasar pun terjadi, saya kebablasan setengah jam dari TKP. Kok bisa? Iya, kakak saya yang tadinya di belakang tiba-tiba lenyap, mungkin saking saya menikmati perjalanan ini, saya jadi kalap ngegas. Jalanan yang saya susuri tidak padat kendaraan, banyak tikungan yang menaik ke atas: untungnya tidak ada bus-bus besar yang melintas, hanya mini bus. 
Super excited saat nyetir motor menuju Tanjung Sari yang sudah kebablasan melewati Desa Kepil, Teges Wetan. Sampai kebablasan jalan itu, karena saya juga mengestimasikan waktu perjalanan dari rumah ke Tanjung Sari sekitar satu jam, itu pun kata Kakak saya waktu saya menanyakan berapa lama perjalanannya. Saya kerap melihat jam tangan saya yang saat itu masih tersisa setengah jam lagi, saya dengan percaya diri ngegas motor sampai di titik saya kelelahan menyetir.

Kami pun berhenti di pinggir jalan dan tidak tahu sudah berada di mana. Buru-buru saya melihat layar HP, Whatsapp dari Kakak saya yang bilang, bahwa mereka sudah tiba dari tadi. Saya pun melihat jam chat kakak saya yang sudah lebih dari setengah jam yang lalu ia chat dan bahkan menelepon. Ok, untungnya saat saya memegang HP, HP-pun berdering kembali dan saya mengangkatnya. Akhirnya kami balik arah menuju Tanjung Sari dengan patokan yang sudah diberitahu. Untungnya, saat saya menyetir saya selalu mengingat macam spanduk atau pun nama jalanan yang sudah saya lewati.

Finally, kami sampai di Tanjung Sari dan melihat spanduk Tanjung Sari lalu saya bergumam dalam hati: pantas saja saya terlewat, wong spanduk bertuliskan Tanjung Sari ini telah memudar, kalah warna dengan spanduk makan yang terletak di bawahnya. Spanduk makan yang berwarna kuning gonjreng itu justru terlihat jelas dari beberapa meter saja dengan tulisan: Rumah Makan Tenda Biru. Padahal, selama saya nyetir, berharap menemukan Tanjung Sari dengan spanduknya yang mengagumkan. Harapan saya pupus ketika melihat spanduknya. Lalu, saya membayar tiket masuk wisatanya, yang dikenakan 7000 per-orang.

Tanjung Sari ini adalah kebon teh yang juga sebagai objek wisata dengan berbagai fasilitas menarik pengunjung, seperti dua kolam renang, spot selfie dengan latar perbukitan yang dihiasi pohon-pohon berwarna hijau atau pun bunga-bunga yang indah. 












Setelah puas bercengkrama dengan alamnya, kami pulang ke rumah. Alhamdulillah setelah misi rihlah selesai, di tengah perjalanan turun hujan dengan derasnya, dan kami berteduh di bengkel.


Itulah cerita perjalanan saya ke Tanjung Sari Wonosobo, mau tahu saya ke mana lagi? Klik di sini

From Ciledug to Wonosobo







Jadi ceritanya, saya tidak berencana apa pun untuk menghadapi tahun baru dengan jalan-jalan ke luar kota seperti tahun-tahun sebelumnya. Pergi ke Wonosobo untuk mengakhiri dan mengawali tahun baru adalah sebuah ketidaksengajaan karena melihat e-mail dari kantor yang masuk, bahwa akan ada cuti bersama yang mengiringi tanggal merah pada saat Natal dan tahun baru. Mulai tanggal 23 sampai 26 Desember 2017  dan keisi masuk kantor cuman dua hari yang terjepit di antara hari libur. Lalu, mulai tanggal 29 Desember 2017 sampai tanggal 2 Januari 2018 libur lagi. Saya merasa liburnya itu teramat panjang dan sangat kejepit sekali hingga saya berpikir, “dari pada sayang gini liburannya, cuman di rumah dengan estimasi hari libur yang lama, lebih baik saya ke Wonosobo saja.” 
Memutuskan long weekend untuk pergi ke Wonosobo adalah pilihan liburan yang murah dan tepat buat saya, dengan alasan: Pertama, akomodasi yang murah untuk perjalanan ke luar kota pada peak season, karena memang harganya tidak naik kalau long weekend seperti ini. Kedua, tidak perlu repot untuk jauh-jauh hari mendapatkan tiket bus yang available, karena bus ke Wonosobo dibuka pada satu waktu kita akan pergi juga. Ketiga, saya tidak perlu menginap di hotel dengan mengeluarkan biaya lagi, karena kakak saya tinggal di sana bersama suami.

Saat saya berpikir akan jalan-jalan ke Wonosobo, jujur saya tidak terlalu bersemangat dan excited seperti jalan-jalan ke kota lainnya. Karena saya beberapa kali hinggap ke Wonosobo dan inginnya berkelana ke kota yang belum pernah saya kunjungi. Walau sering saya berkunjung, namun ada beberapa spot objek wisata Wonosobo yang belum pernah saya kunjungi. Dari dulu, saya kepengin banget mencoba hiking ke gunung. Apalagi ini di Wonosobo, semacam gunung atau tempat-tempat tinggi di sana adalah destinasi favorit bagi pecinta gunung. Tapi, karena liburan (lagi-lagi) kali ini ke Wonosobo barengan saudara, kayaknya untuk hiking ke Gunung nggak dulu deh. Iya, si Tante dan anaknya juga ikut, nggak mungkin juga ke tempat-tempat tinggi hiking gitu.

Dari bulan kapan tau, hujan masih saja sering turun di Wonosobo. Keinginan saya untuk pergi ke Dieng, sepertinya tidak memungkinkan. Kakak saya bilang, di Dieng (atas) masih kerap terjadi longsor, dan di Wonosobo hampir tiap hari turun hujan. Saya sih pasrah saja akan ke mana nanti, yang ada di dalam pikiran saya adalah, “saya mau menghabiskan liburan panjang ini tidak di rumah.” Udah gitu aja.

Tanggal 27 Desember 2017 pagi hari pukul 08.00 saya dan ibu langsung cus ke loket Bus yang ada di Asrama Polri, Ciledug. Loket memang dibuka pada pukul tersebut untuk yang mau pergi pada saat hari itu juga. Seperti yang saya tulis sebelumnya, beli tiket untuk pergi ke Wonosoboon the spot.” Beli tiket bus ke Wonosobo, bukan hanya di Asrama Polri, di Pasar Lembang yang dijadikan terminal untuk bus-bus luar kota juga dibuka pada pukul yang sama. Bedanya, kalau ingin dapet duduk dengan kursi yang berada di depan, sebaiknya membeli tiket dari Pasar Lembang Ciledug saja.

Sebenarnya saya ingin sekali memesan kursi di depan, dan harusnya saya beli tiket di Pasar Lembang. Waktu ke Wonosobo sebelumnya, ada insiden paling tidak adil bagi saya dan keluarga yang saat itu sudah membeli tiket bus di Pasar Lembang. Kami mendapatkan kursi di depan dan saat sudah di bus, nomor kursi kami jadi berpindah tempat ke kursi persis di belakang penumpang lain yang menyelak. Ibu saya komplain ke loketernya yang saat itu kami naik bus dari Asrama Polri (rule-nya memang bisa kok, beli tiket bus di Pasar Lembang, dan naiknya baru di Asrama Polri). Anehnya, si Mbak beserta Sopirnya, tidak mengindahkan keluhan Ibu saya (karena ibu saya yang beli tiketnya) terjadi cek-cok mulut lah, tetap saja mereka yang tak mau kalah (jelas-jelas mereka yang salah). 

Setelah insiden yang tidak mengenakkan bagi saya dan keluarga, yang entah bagaimana mereka bisa selicik itu, Ibu dan saya jadi kapok untuk membeli tiket dari Pasar Lembang, ya takut-takut diperlakukan tidak adil lagi dari pihak PT. Sinar Jayanya.

Dan... pagi hari itu, di tanggal alhamdulillah, ibu saya tuntas membeli tiket bus ke Wonosobo. Seperti tidak disangka sebelumnya, saya kebagian kursi belakang! Saya sudah mulai uring-uringan melihat tiket yang sudah terbelikan oleh ibu. 



Kalau yang tahu bagaimana rasanya berada di bus dengan duduk di kursi belakang akan ada drama: pusing dan mual. Ya gimana lagi ye kan, tiket sudah dibeli dan bersyukur masih mendapatkan tiket bus: karena ini long wiken, pastilah penumpang akan penuh sekali. Dengan harga 100.000 menggunakan bus bisnis AC seat 3-2, Bus Sirna Jaya Jurusan Wonosobo akan berangkat pada pukul 14.00. Penjelasan soal waktu keberangkatan, bagi saya, kali pertama berangkat ke Wonosobo pada pukul 14.00. Biasanya Bus Jurusan Wonosobo mulai jalan pada pukul 16.00. Kata loketernya sih, karena long wiken dan di tol akan padat dengan kendaraan.  

Sebelum pukul 14.00 saya dan saudara sudah standby di Asrama Polri, menunggu bus datang. Telat setengah jam, bus akhirnya datang. Dan sekitar 14.45, bus mulai berangkat. Terjadi kemacetan yang parah di Bekasi, bus terus melaju hingga akhirnya sekitar pukul 19.30, sampailah di tempat ngasonya Bus Sirna Jaya di daerah... (((duh lupa))) 

Waktu yang disediakan hanya setengah jam untuk ishoma, kami buru-buru shalat Jamak dan Qashar maghrib – Isya, dan makanlah kami di bus yang sudah kami bawa dari rumah. Bus melanjutkan perjalanannya dan terus melaju. Yang saya rasakan saat duduk di kursi belakang, alhamdulillah saya tidak mual, karena sepanjang perjalanan saya pakai buat tidur ayam: bus mulai sering nyalip dan saya deg-degkan luar biasa. Hal yang paling mengasyikkan saat duduk di kursi belakang, saya merasa bagaikan naik roller coaster skala kecil. Waktu ada turunan, berasa ngilu euy. Perjalanan naik lalu turun ini berada di sekitaran Banjar Negara menuju kota Wonosobo.


Dan, finally, alhamdulillah kami sampai di rumah kakak saya pukul 03.00 subuh. Mau tahu, saya jalan-jalan ke mana saja setelah sampai di Wonosobo? klik di sini ya