Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2018

Main-main ke Kampung Main Cipulir



Liburan anak sekolah di Ciledug enaknya ke mana? Itulah yang saya pikirkan, saat keponakan saya ada di Ciledug. Nggak ingin pergi jauh, untuk mencari tempat hangout bareng family di Ciledug ada amatlah banyak pilihannya. Hehe yakin? Yakinn.. apalagi udah ada tempat liburan yang hampir semua usia bisa menikmatinya di sini, di Kampung Main Cipulir. Sudah pernah dengar dari semenjak awal buka, tapi belum kesampaian ke sana dan berpikir: ini tempat main di Cipulir mananya?




Lalu, ketika liburan yang sangat mendesak ini. Saya pun akhirnya googling untuk melihat fasilitas dan harga tiket masuk. Ok, nggak terlalu mahal. Dan beberapa hari kemudian. Kami pun berangkat. Keponakan ikut, adik, dan kakak ngikut, emak juga ikut. Pergi di hari sabtu sekitar pukul 10.00 (kesiangan sih, tapi tak apalah).  Mencari Kampung Main Cipulir via google maps, ternyata salah arah pemirsa, kami mentok di gang kecil. Nanya seseorang, katanya juga ada beberapa orang yang nyasar nyari Kampung Main Cipulir di sini.

Mengandalkan petunjuk orang yang ditanya, tak jauh dari tempat kami nyasar, sampailah di Kampung Main Cipulir. Kamu jangan kaget ya, kalau tempatnya di ujung dan nyempil gitu (di area perumahan). Sepanjang jalan menuju pintu masuk, kang jajan banyak. Ahh apa aja jadi mau dibeli. Harga tiket masuk perorang bayar 7000 Rupiah belum termasuk fasilitas permainan lainnya ya. Karena, di Kampung Main Cipulir ini, ada tempat renang, panahan, kudaan, odong-odong, outbond yang kudu kamu bayar lagi kalau mau main.







Piknik bareng keluarga emang asik sih, bawa bekal dan makan lesehan. Nyari tempat yang gratisan, beruntungnya kami dapat tempat yang adem lah. Selesai makan bareng, saya shalat. Ada musalanya: adem gengs! Lalu saya menemani keponakan saya yang ingin naik kuda, bayar 10.000 per anak cukup murah bukan?

Buat kamu yang banci foto. Di Kampung Main Cipulir juga ada tempat yang asik buat cekrek-cekrek nih. Ada jembatan unyu, rumah betawi, papan kupu-kupuan. Mayan kan ya, buat nambahin galeri foto di HP (wkwk). Keponakan saya berenang, harga tiket masuk 30.000 Rupiah per orang. Sambil menunggu keponakan berenang, saya pun berkeliling Kampung Main Cipulir.




Kebetulan di hari yang sama, ada perlombaan suara burung. Kali pertama nih, saya tahu perlombaan suara burung yang diadu dengan burung peserta lainnya. Sangat disayangkan, para peserta yang ikut lomba, ternyata lomba merokok juga (dalam artian tidak sebenarnya) asap-asap rokok mengembang di udara. Kami pun akhirnya berpindah tempat. Selesai para keponakan berenang, saya mengajak main ponakan yang masih kecil ke beberapa tempat area bermain anak. Lumayan tersedia banyak dan berfungsi dengan cukup baik.



Setelah keponakan puas bermain di Kampung Main Cipulir, kami pun kembali pulang. Menurut saya, tempat tersebut memang cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Jadi, buat kamu yang tinggal di Ciledug dan sekitarnya tak perlu bingung lagi cari-cari tempat liburan bareng keluarga deh, tinggal datang saja ke Kampung Main Cipulir, kamu dan keluarga akan menikmati keseruannya!


Selasa, 04 September 2018

Mengintip Perkampungan a la Eropa di Devoyage Bogor





Kali ini Devoyage Bogor menjadi sasaran perjalanan saya. Devoyage yang mengusung tema perkampungan a la Eropa ini menjadi tempat paling hits di Bogor, lagi kekinian karena tempatnya yang instagramable.
Yuk, intip perkampungan Eropa di Devoyage Bogor!

Naik apa ke devoyage?

Mau ke Devoyage dari Stasiun Bogor

Saya bersama Nurul dan Mbak Tree janjian di Stasiun Bogor pukul 11.00 WIB. Because i’m come from Ciledug. Jadi, mulai pukul 08.00 WIB saya sudah otw. Pukul 11.40 WIB saya baru sampai di Stasiun Bogor (untung nggak dijitak Mbak Tree dan Nurul). Dari Stasiun, saya order angkutan online tinggal set aja deh, tempat tujuan “devoyage” Nanti langsung ada deh tuh namanya. 

Harganya hanya 46.000 yang bisa kami share ongkosnya bertiga (lumayan kan, bisa irit). Kami menunggu di Bank BJB setelah melewati jembatan penyebrangan dan melalui pagar yang panjang itu. Cukup lama menunggu angkutan online, 10 menit kemudian, baru kami dijemput pas di depan Bank BJBnya.

TIPS: Buat kamu yang tidak membawa kendaraan pribadi, angkutan online adalah salah satu pilihan kendaraan ternyaman yang bisa mengantarmu langsung ke tempat tujuan. Untuk angkutan umum lainnya, sepertinya agak susah dijangkau deh.

Devoyage itu di mana?


Devoyage berada dekat sekali dengan The Jungle dan berada persis di depan Hotel Aston Bogor yang masih dalam satu wilayah perumahan Bogor Nirwana Residence.

Harga tiket masuk dan jam buka


Harga tiket masuk untuk hari biasa dikenakan biaya 25.000 Rupiah, sedangkan untuk hari libur atau sabtu dan minggu dikenakan biaya 35.000 Rupiah dengan selisih harga 10.000 Rupiah. Kami kaget melihat tiket masuknya yang hanya selembar kertas bagaikan belanja di mini market. Jadi satu tiket untuk rame-rame gitu ceritanya. Untuk waktu bukanya, Devoyage mulai dibuka pada pukul 10.00  WIB sampai pukul 18.00 WIB pada hari biasa dan pukul 09.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB pada hari libur.

Ada pemeriksaan tas?



Setelah membeli tiket, saat mau masuk ke dalam, ada petugas menyuruh kami agar tas diperiksa lebih dulu. Lebih tepatnya bukan diperiksa sih, karena emang nggak ada pemeriksaan. Jadi, kalau kamu ngerasa membawa makanan atau minuman dari luar, harus menyerahkannya ke tempat penitipan. Karena kalau mau makan atau minum sudah ada di dalam Devoyage. Saya pun masih mikir, kenapa nggak boleh bawa? Apa karena biar pada beli di dalam? Atau bisa jadi agar menjaga ketertiban kebersihan, takut ada yang gelar piknik di Devoge, mungkin? 

Suasana di Devoyage


Kami tiba di Devoyage, Bogor pukul 12.15 WIB. Beihh.. memang lagi panas-panasnya. Pohon di sekitar Devoyage masih belum banyak dan daunnya belum ada yang lebat. Jadi panasnya berasa nonjok. Kami langsung disuguhkan perkampungan a la Eropa. Walau belum pernah ke sana, tapi kayak di sana. Hahaha. Awal masuk yang paling terlihat adalah replika menara Eiffelnya. Nah, di posisi awal ini nih, kamu bisa foto menara Eiffelnya.

Nggak jauh dari pintu masuk, ada musala dan kami langsung shalat Zuhur. Walau cuacanya panas, air di Bogor sejuk. Pas ngambil air wudhu, berasa adem banget dah. Sayang sekali, tempat shalat untuk akhwatnya teramat mini. Padahal pengunjung di Devoyage lumayan padat. Apalagi kami datang di waktu libur kerja.

Tips: Jika kamu datang pada siang hari, kamu perlu membawa kacamata atau pun topi untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari. Karena kita perlu jalan dan berkeliling untuk foto-foto di sana. Dan jangan lupa pakai sunscreen atau sunblock agar kulit tubuhmu terlindungi dari radiasi bahaya paparan sinar matahari di siang bolong.

Eksplore spot foto



Dengan mengusung konsep: Holiday, Selfie & Foodies, kamu bisa berliburan sambil selfie dan makan-makan di  Devoyage Bogor. Karena berkonsep selfie,  di dalam Devoyage menghadirkan berbagai spot menarik yang bisa kamu temui untuk foto-foto nih: ada kincir angin a la Belanda, telepon umum a  la London, replika menara Eiffel dan berbagai gaya bangunan rumah khas Eropa. Dan yang membuat kesannya indah, ada berbagai jenis bunga tanaman dengan warna-warna cerah. Buat kamu yang banci foto, Devoyage adalah pilihan yang tepat. Kamu nggak akan kecewa, karena ada 150 spot foto di dalamnya. Seneng kan lo?     





Fasilitas:
  • Musala yang nggak jauh dari pintu masuk
  • Toilet untuk umum
  • Kedai makanan/minuman
  • Macam-macam bentuk permainan yang mengeluarkan biaya lagi, seperti gondola versi venesia, komidi putar untuk anak balita, dan beberapa permainan menarik yang bisa kamu coba di Devoyage.

Selesai berkeliling Devoyage, pukul 14.00 WIB kami melanjutkan perjalanan untuk kuliner di Bogor. Yap, kami tidak mencoba makan di dalam Devoyage, hanya pesan teh leci dengan harga 17.000 Rupiah.    




Begitulah cerita perjalanan saya waktu di Devoyage Bogor, buat kamu yang sedang bingung mencari tempat liburan di Bogor, saya sarankan untuk datang ke Devoyage. Selamat berliburan...  

Kamis, 23 Agustus 2018

Menghabiskan Waktu Seharian di Cirebon







Kota Cirebon, termasuk salah satu list trip saya, qadarullah saya bisa sampai di Kota Cirebon tahun 2018 ini. Kakek saya asli orang Cirebon, tapi saya pun tidak tahu saudara yang ada di Cirebon ini tinggal di mana saja. Kali ini, perjalanan di Cirebon ditemani oleh teman saya, Anggi. Waktu sebelum bertemu di Cirebon, saya bilang ke Anggi bahwa saya ingin sekali ke Cirebon. Dan, tanpa rencana yang matang, one day trip saya ke Cirebon pun terlaksana. Alhamdulillah. Saya pesan kereta untuk PP di Traveloka, jauh-jauh hari. Alasan saya memesan tiket jauh-jauh hari karena, saya takut harga tiket KA murah ke Cirebon habis. Kalian begitu juga nggak sih?

Saya berangkat ke Cirebon menggunakan kereta Api Tegal Bahari,  pada pukul 09.44. Mulai berangkat dari rumah pukul 07.00 teng! Naik Trans, kebetulan moda TransJak hari ini free sampai tanggal 19 Agustus. Dalam perjalanan menuju Stasiun Gambir, mulai dari depan GBK, ramai sekali orang! Hari itu memang akan ada Opening Asian Games pada malam harinya.

Tiba di Stasiun Gambir, waktu menunjukkan pukul 09.00, rupanya saya datang lebih awal. Jadi, tidak perlu terburu-buru mencetak tiket. Ternyata kereta Tegal Bahari sudah standby di peron 4, saya pun langsung masuk dan duduk manis di seat 12 yang ternyata jalannya mundur dan berhadapan dengan dua bangku lainnya. Ok, saya pun gagal memilih kursi yang enak. Kereta Ekonomi Tegal Bahari termasuk lux ya, beda banget sama Matarmaja yang kursinya berjajar 3, dan kurang empuk seperti Tegal Bahari.

3 Jam perjalanan, saya pun sampai di Kota Cirebon! Ternyata, cuaca di Cirebon Hot ya. Saya langsung samperin Anggi yang sudah standby di Stasiun, Anggi pun tak sendiri, ia membawa adiknya yang paling mungil bernama Mon-Mon.
Dari stasiun, kami langsung menuju Keraton Kasepuhan, naik becak. Tak langsung ke Keraton Kasepuhan, saya shalat dulu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon, nampak mesjid dengan sentuhan interiornya yang mirip dengan Masjid Agung Demak, berbentuk limas.

Saya shalat di teras masjid, jadi saya tidak dapat masuk ke dalam masjid karena ditutup dan belum bisa melihat dengan sempurna duabelas sokoguru ‘pilar utama bangunan’  yang berada di dalam masjid.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (nampak teras masjidnya)
Susunan batu merah yang khas dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Karena Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Tanah Jawa yang dibangun 1480 Masehi, duabelas sokoguru sudah ditopang dengan rangkaian besi agar menjaga sokoguru tetap utuh. Uniknya lagi, masjid ini pun dikenal dengan sebutan Azan Pitu: tujuh muadzin mengumandangkan azan secara bersama-sama. Sampai sekarang, pada saat menjelang Shalat Jum’at, azan pitu bisa kita dengar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Setelah shalat, kami makan nasi lengko yang cukup enak dan terjangkau ada di Keraton Kasepuhan, harganya cuma 10.000. Setelah perut kenyang dan sanggup berjalan lagi, kami langsung menuju Kerato Kasepuhan.

Di Keraton Kasepuhan, biaya masuknya 15.000 per orang. Baru kali ini saya ke tempat wisata yang tidak ada permainannya dengan biaya yang menurut saya masih terbilang mahal, berbeda ketika saya berliburan ke Wonosobo. 


Menurut wikipedia, Keraton Kasepuhan ini adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makanya nggak heran biaya masuk dengan harga 15.000 per orang, mungkin harga segitu untuk biaya pemeliharaan keraton.
Nampak halaman depan keraton yang dikelilingi tembok bata merah, uniknya, batu bata disusun dengan perekatan yang dicampur putih telur, getah aren, dan kapur sirih.

Masuk ke Keraton Kasepuhan
Patung 2 ekor macan putih


Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan keraton tertua di Cirebon yang dibangun pada tahun 1430 oleh Pangeran yang bernama Pangeran Walangsungang. Nama keraton kasepuhan awalnya adalah Dalem Agung Pakungwati. Keluarga sultan masih ada yang tinggal di Keraton Kasepuhan ini loh. Waktu saya ke sana, tempat penerima tamu ditutup. Yang saya dengar dari guide, pintu itu akan dibuka pada dua kali dalam setahun, yaitu pada maulid nabi dan Hari Raya Idul Fitri.

Tanpa guide di dalam Keraton Kasepuhan Cirebon, tidak akan membuatmu cengo. di setiap arsiteknya terdapat papan penjelasan yang bisa kamu baca dengan jelas. Kalau kamu suka sejarah kerajaan Islam, kamu perlu catat informasinya!

Ornamen bunga pada pintu melambangkan shalat lima waktu

Saya tidak mampir ke Museum Singa Barong yang berada di komplek keraton, karena harga masuknya yang cukup mahal, 25.000. Padahal seru loh masuk di dalam museumnya, kamu bisa melihat lebih dekat kereta kencana (Kereta Singa Barong) yang menjadi transportasi keluarga sultan.

Perjalanan berlanjut ke Goa Sunyaragi. Dari kejauhan, Goa Sunyaragi sudah terlihat dengan keindahannya. Masuk dengan harga tiket 10.000 per orang. Goa ini adalah goa buatan yang terbuat dari batu karang. Nama Goa Sunyaragi berasal dari bahasa sansekerta, Sunya ‘sepi’ dan Raga ‘badan’.  Sesuai dengan namanya, Goa ini pun dipakai untuk bersemedi para raja Cirebon ratusan tahun lalu.

Di dalam goanya terdapat banyak goa-goa kecil yang bisa kamu masuki, yang saya dengar dari guide tour, tak pernah melihat orang yang badannya besar yang tidak bisa masuk ke dalam Goa-goa Sunyaragi. Katanya lagi, ada patung yang bernama Perawan Sunti ‘perawan seumur hidup’ yang tidak boleh disentuh oleh anak gadis, nanti bisa sukar dapat jodoh. Tapi, patung aslinya tidak berada di tempatnya, patung tersebut sudah dimuseumkan.


Patung perawan sunti yang dipegang guide


Ada banyak spot foto menarik Di Goa Sunyaragi yang bisa kamu cari untuk cekrak-cekreak di sana. Saya pun nggak melewatkan momen tersebut untuk banci foto. Ya, walaupun momen perfotoan pun sedikit yang saya cekrek (ternyata capek juga, keliling Goa Sunyaragi, loh)

Waktu hampir mau Maghrib, saya dan Anggi memutuskan untuk kembali pulang. Tentunya, saya menumpang nginap semalam di tempat Miminya Anggi yang berada di Tukmudal. Saya jatuh cinta dengan Sumber Tukmudal! Wilayahnya cukup adem, dan banyak pohon-pohon rindang di pinggiran jalan. Keesokan harinya saat saya ambil keberangkatan kereta pagi dari Tukmudal, saya sangat menikmati perjalanan dari Tukmudal.

bye-bye Cirebon

Kamis, 26 Juli 2018

Masjid Ramlie Musofa, Taj Mahalnya Indonesia






Masjid Ramlie Musofa, dari stalking-in Instagram orang berakhir jadi pengin menelusurinya secara langsung. Dan, saya memutuskan teman traveling kali ini bersama Mbak Tree. Alasan saya mengajaknya, karena Mba Tree sepertinya sangat suka kalau diajak ke Mesjid Ramlie Musofa yang baru dua tahun kemarin diresmikan, tepatnya pada Bulan Mei 2016.

Saya chatt Mbak Tree, dan akhirnya mengiyakan. Yaay! Alhamdulillah, mau. Padahal lokasinya lumayan jauh dari masing-masing tempat tinggal kami. Mbak Tree yang memutuskan untuk berangkat dari Pasar Minggu, dan saya yang berangkat dari Ciledug. Sebelum pergi, saya sempat mampir ke blog-blog orang mengenai Masjid Ramlie yang dibangun oleh seorang Cina Mualaf, katanya gitu dari yang saya baca. Ramlie Musofa diambil dari nama anak-anaknya: Muhammad, Sopian, dan Fabian yang disingkat menjadi Musofa.  

Pada hari Kamis, bertepatan dengan 1 Muharram, kami merayakannya dengan berkunjung ke rumah Allah yang berada di Sunter. Kami janjian di Stasiun Rajawali, kali pertama saya tahu, ternayata ada ya namanya Stasiun Rajawali. Seperti biasa, kalau saya ke St. Kebayoran Lama dulu, bawa motor dan taro motor di sana. Karena janjian di St. Rajawali pukul 4, perkiraan waktu saya adalah berangkat dari rumah pukul setengah tiga. Dari Stasiun Kebayoran Lama, transit di Tanah Abang, lalu nyari yang jurusan Jatinegara dan turun di St. Rajawali. Ternyata saya duluan yang sampai di St. Rajawali satu jam lebih awal seperti waktu janjiannya. 

Saya pun menunggu Mba Tree dalam satu jam lebih. Setelah bertemu di St. Rajawali, kami berangkat ke Mesjid Ramlie menggunakan grabcar yang akhirnya membawa kami ke tempat tujuan: Masjid Ramlie Musofa.

Penampakan Mesjid Ramlie Musofa, sama seperti yang diposting orang-orang lewat media sosial. Megah, gagah, indah. Itulah kesan yang bisa saya gambarkan pertama kali melihatnya. Security masjid menyambut kedatangan kami. Ya, di Mesjid ada security yang menjaga mesjidnya. Pas ditanya tentang tutup dan buka masjid. Ternyata Mesjid Ramlie ini dibuka dari pukul 4 subuh dan ditutup pada pukul 9 malam.

Kami langsung shalat Ashar di sana. Di tempat wudhu, ada tata cara berwudhu yang dilengkapi step by step dengan gambar serta penjelasannya. Dan doa setelah selesai berwudhu. Dan tak ketinggalan, sebelum memasuki ruang shalat, ada kertas yang menempel di dinding dengan doa masuk ke masjid, dan jika kami mau keluar masjid juga ada bacaannya. Karena masjid ini dibuat dari seorang mualaf, maka segala sesuatunya juga dibuat dengan memberikan petunjuk untuk mualaf yang baru belajar Islam.








Jamaah perempuan terletak di bawah, sedangkan jamaah laki-laki berada di atas. Lokasi jamaah perempuan biasa saja, namun pas naik ke lantai atas yang notabene dijadikaan tempat shalat ikhwan, luar biasa mengagumkan. Mimbar, pilar, serta atapnya sangat epik untuk diabadikan, seperti yang saya foto ini. Hampir di setiap sudutnya selalu menarik untuk diabadikan.

Ruang shalat untuk jama'ah perempuan

ada liftnya nih, ramah disabilitas banget mesjidnya
Dari sudut lain, saya ambil foto
Dari lantai tiga
Mimbar yang ada di lantai dua

Kubah yang dikelilingi pilar cantik
Bisa lihat jalanan sunter





Dari lantai dua ini, saya bisa melihat pemandangan danau sunter, jalanan, dan pepohonan di sekitar jalan rayanya. Total lantai yang dimiliki oleh mesjid ini adalah 4 lantai dengan ketinggian sekitar 35 meter. Saya suka sekali dengan pilar-pilar mesjidnya yang berwarna putih dan menjulang tinggi, seperti yang saya lihat pilar pada lantai dua.

Banyak yang bilang, Mesjid Ramlie Musofa seperti Taj Mahalnya Indonesia. Ya, memang bangunan mesjid ini menyerupai mesjid terbesar di India. Tak tanggung-tanggung, lantai marmernya pun didatangkan dari Italia dan Turki.   

Ada pohon kurma


Saran saya, jika ke Mesjid ini waktu yang paling tepat untuk mengabadikan foto adalah pada setelah waktu Ashar sampai Maghrib tiba, jadinya kamu bisa sekalian shalat Maghrib di Rumah Allah yang megah ini. Kamu bisa menjepret hasil fotomu dalam rentan tiga waktu yang indah: saat matahari belum terbenam, akan terbenam, dan gelap. Seperti yang saya lakukan ini. Jangan lupa untuk sekalian menikmati keindahan matahari terbenam di Mesjid Ramlie Musofa dan kamu pun bisa melihatnya dari atas ketinggian mesjid, dijamin kece geng! 

Ambil foto setelah shalat Ashar, begini penampakannya
Ambil foto sebelum Maghrib, matahari akan terbenam
Saat gelap, begini penampakannya
Selesai shalat Maghrib di sini, saya pun meninggalkan mesjid ini dengan hati senang. Lain waktu, semoga bisa ke Masjid ini lagi. Amiinn