Senin, 14 Desember 2015

"Bahagianya" kok nggak habis-habis?



Saya kedatangan seorang sahabat di kosan saya, kami bercerita. Tentang apa saja.
Kami jarang bertemu, dan sekalinya bertemu, tentu kami saling bercerita apa pun. Dari keseharian menjalani aktivitas, masa kelam, serta bercerita masa terang kami dengan perencanaan ini-itu. Kami saling bertukar nasihat dan pesan. Anehnya, saya selalu bersependapat dengan dirinya. Entah dengan satu sahabat ini, saya pikir saya banyak kesamaan persetujuan dan penolakan yang terjadi di kehidupan saya. 

Dalam persoalan kami, terlintas topik yang saya sangat elukan akhir-akhir ini. Jejaring sosial dan si tokoh utamanya. Saya keluarkan uneg-uneg yang membuat saya tidak senang dengan pengguna jejaring sosial seperti facebook dan path, yang banyak saya singgung dengannya. 
“Postingannya nggak bermanfaat banget gitu loh, iya kalau bermanfaat, kan setidaknya menyenangkan juga. Atau kalau mau, jangan sampai membuat muak orang yang melihatnya.” Begitulah kira-kira keluhan saya terhadapnya.

Saya menganggap orang-orang yang punya facebook dan path atau jejaring sosial lainnya seharusnya cukup cerdas menggunakannya. Saya? Memang nggak cukup cerdas, setidaknya saya cukup bertoleransi menggunakannya.
Entah ini hanya keirian, kedengkian atau muak yang terjadi saat melihat postingan di facebook dan path yang NGGAK seharusnya penting dipublikasikan? Dan cukup si tokoh utamanya saja yang SEHARUSNYA membuat privasi postingan.

Banyak teman dari kita yang belum mendapatkan pasangan, cukuplah bertoleransi dengan tidak mempublikasikan terus-terusan kemesraan kalian di dunia maya. Apalagi dengan caption yang tidak begitu penting dan terlalu mengada-ngada. Trust me, bukan iri yang orang lain akan rasakan, tapi geli atau bahkan menjelma muak. 

Atau mempublikasikan anak kalian yang sudah bisa merangkak, berdiri, makan sendiri, pakai baju sendiri, dengan caption yang tidak begitu penting untuk orang lain? Oh, please, kalian bisa sibuk dengan itu? Apakah tidak sedikitpun kalian merasakan kedukaan teman kita yang belum ditakdirkan memiliki anak? Oh sudahlah, mungkin hati nurani kalian sudah mati. 

Memiliki barang mewah, dengan meng-upload-nya di sebuah jejaring sosial, berharap ada yang mengira kalian berkelas? Saya justru berpikir kalian tidak berkelas. Bertoleransilah jika temanmu bisa isi pulsanya  saja sudah cukup. 

Sifat ujub, riya, angkuh, dan teman-temannya sudah seharunya dikikis sedikit-demi sedikit. Media sosial sangat rentan untuk kita berpamer-pamer ria. Iya kalau kita cukup cerdas memamerkan hasil karya kita dan menjadi inspiring orang yang melihatnya. Akan tambah indah  suasananya jika begitu.


Nggak perlu sedikit-dikit diposting, tapi sedikit-dikit pamernya dihilangkan, coba…  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar