Rabu, 04 Desember 2013

Pesantren, tempat tinggal yang nyaman dan aman

Mungkin banyak orang beranggapan kalau pesantren bagaikan sebuah tempat penjara yang suci, dan berpikir di pesantren merupakan tempat didikan anak yang nggak bener agar menjadi lebih baik lagi. Anggap saja orangtua berkata “Saya nyerah deh didik anak jaman sekarang, mending di pondokin biar jadi bener.” Bahkan ada yang beranggapan pesantren itu kuno dan nggak modern, eh siapa bilang? Emangnya belum tahu ya, kalau sekarang sudah menjamur pesantren modern?

Dua kali aku sudah merasakan pesantren modern, ya! Aku bangga dan mengakui aku lulusan dari pesantren. Lalu apa? Jujur, keinginan aku untuk berada di pesantren lantaran bukan karena kemauan orangtua yang memaksa agar anaknya menjadi lebih baik lagi, atau aku anak yang nakal. Dan juga bukan karena sang ayah yang ingin anaknya juga seperti beliau. Kebetulan ayah alumnus dari pondok pesantren Gontor Putra. Aku terbilang anak yang religi, dari SD sampai SMP aku di sekolahkan dengan cukup pelajaran agama Islam ditambah lagi, dari SD sudah mengaji di TPA hingga SMP bekal sudah cukup. Dan kenapa aku mau di pesantren?

Keinginan untuk menjadi santri karena beberapa alasan, pertama, aku ingin sekali pergi jauh dari rumah. Khususnya ingin melarikan diri dari ayah. Loh emang kenapa? Ayahnya jahat? Haha off the record. Alasan kedua, aku ingin mahir berbahas asing.  Aku dengar waktu SMP, kalau di pesantren modern itu percakapan kesehariannya menggunakan bahasa arab dan bahasa inggris. Dan sejak kelas 2 SMP itu niat untuk menjadi santri semakin menggebu-gebu. Jadi, setelah lulus SMP dengan lantang aku ngomong ke orangtuaku bahwa aku ingin di pesantren dan menjadi santriwati. Orangtuaku adalah orangtua yang OK selagi keputusannya adalah yang terbaik, kenapa nggak.

Niat sudah bulat ingin ke pesantren yang berada di mantingan, Jawa Timur. Keanehan pun terjadi, bukannya aku langsung didaftarkan, orangtuaku justru menawarkan ke berbagai pesantren modern lainnya. Seingatku, sempat ke pesantren Darunnajah dan Latansa, dengan mendaftarkan untuk menjadi bagian santriwati. Akhirnya, jadi juga daftar ke Gontor Putri. Hanya berlangsung satu tahun merasakan pesantren yang luar biasa kedisiplinannya itu, tidak betah. Kemudian aku pindah ke pesantren yang berada di Daar el Qalam. Alhamdulillah sampai lulus. 

Itu sih cerita dari pengalaman dan proses singkat aku bisa masuk pesantren. Apa yang aku rasakan ketika menjadi santriwati dan kemudian lulus? Waah ini menjadi suka sekaligus duka. Ketika keluar rumah, mau tidak mau orang yang berada di lingkungan sekitar sudah memberi penilaian, bahwa anak pesantren adalah anak yang sangat religi, pinter ngaji, ceramah, dan tidak macem-macem, pacarannya sehat, dll. Aku sendiri santai dengan penilaian positif itu, tapi apa jika kita sedikit melakukan kesalahan kecil saja? Anggap saja nggak pernah menyapa tetangga, pastinya jadi omongan “Kok dari pesantren nggak ada ramah tamahnya ya?” Kesalahan kecil seakan bencana yang akan melekat sampai kapan pun (berat) dengan mengekor label dari pesantren. Mau gimana lagi?

Faktanya, selama di pesantren perubahan dalam diri yang aku rasain tidak berubah sama sekali, dari segi akhlak dan ibadah tetep stabil, ya nggak terlalu jeblok dan super. Stabil lah seperti aku yang dulu sewaktu mengaji dan di sekolahkan di tempat Islami. Bedanya, aku lebih istiqamah memakai hijab. Alhamdulillah.

Yang aku heranin, kenapa sih kata pesantren erat kaitannya dengan suci, seakan orang yang dari pesantren nggak punya dosa dan kesalahan. Ya ampun, sama-sama manusia, pasti ada kesalahan. Jujur, tidak sedikit juga hasil dari pesantren yang kemudian melepas hijabnya (ini yang sering aku temui) dan teman yang sudah mulai melupakan ilmunya (entah itu hadis, fiqh, mahfudzat, muthalaah, balaghah, dll) dan melupakan kosa-kata bahasa arab. Parahnya lagi, ada yang menutup-nutupi background mereka yang berasal dari pesantren. Sempat membandingkan dengan teman yang murni SMP-Kuliah di sekolahkan di negeri tidak berbau Islam acan. Yang ternyata nggak kalah religi dari pesantren boo (duh bahasa gue). Tercengang ketika akhwat tersebut dengan lemah lembut pandai sekali membahasakan hadis. Bandingkan dengan diriku yang jauh dari kata santun dan anggun. Hijabnya juga lebar, sempet keki sih liat mereka yang notabene bukan dari pesantren tapi kelakuan sungguh nyantri, Bedanya? Alhamdulillah aku yang di pesantren lebih mahir berbincang bahasa arab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar